adfly

Jumat, 19 November 2010

Tugas Audit SI 2

Tujuan pengendalian keseluruhan sistem
Pengendalian audit sistem informasi dikembangkan dengan mempehatikan tujuan
spesifik pengolahan informasi, sehingga tidakada informasi yang sifatnya bias dan jauh darikeputusan yang semestinya.Pengendaliam sistem dapat dikatakan sebagai
suatu fungsi manajemen yang bertujuan untuk mengusahakan agar aktivitas sistem informasi dapat berjalan sesuai dengan perencanaan Keterkaitan antara audit sistem informasi terhadap kegiatan usaha manajemen dalam rangka mencapai tujuan menyadarkan pentingnya bahwa tidak ada suatu sistem yang benar-benar sempurna
dan bebas dari penyimpangan sehingga tidak diperlukan suatu pengendalian.
Oleh karena itu, audit sistem informasi berorientasi pada 3 lingkungan manajemen, dari
level pencak, menengah dan terbawah. Adapun data yang dikelola menyangkut prosedur sistem berbasis keuangan dan non keuangan pengendalian interen mengarahkan aktivitas organisasi usaha untuk mencapai tujuan.
Sistem ini terdiri dari kebijakan dan prosedurprosedur untuk menyediakan jaminan yang memadai bahwa tujuan perusahaan dapat tercapi tanpa hambatan. Konsep struktur pengendalian interen dasarkan dua premis utama, yakni tanggung jawab manajemen dan jaminan yang memadai. Tujuan audit sistem informasi adalah untuk meninjau ulang (review) dan mengevaluasi pengawasan internal yang diaplikasikan untuk
menjaga keamanan, memeriksa tingkat kepercayaansistem informasi dan mereview operasional sistem aplikasi.

Prosedur Pengendalian keseluruhan Sistem
Pada dasarnya Alat dari sistem pengendalian yang umum dilakukan adalah dibagi dua yaitu pengendalian Umum (General Control) dan Pengendalian Aplikasi (Application Control) yang mengacu pada tiga komponen atau elemen sebagai struktur pengendalian intern berupa Lingkungan pengendalian, Sistem Akuntansi dan Prosedur-prosedur Pengendalian.
a. Lingkungan pengendalian (Control Environment) yakni, suatu batasan dalam
organisasi yang memberikan pengaruh kolektif dari berbagai faktor untuk menetapkan,
menigkatkan atau memperbaiki efektivitas kebijakan dan prosedur-prosedur tertentu.
Faktor-faktor ini antara lain: Filosofi dan gaya operasional manajemen, Struktur
organisasi,Fungsi dewan komisaris dan anggota-anggota, Metode pembebanan otoritas
dan tanggung jawab, Metode-metode pengendalian manajemen, Fungsi audit interen,
Kebijakan dan praktek-praktek kepegawaian, Pengaruh dari luar yang berkaitan dengan
Perusahaan
b. Sistem Akuntansi (Accounting Systems)
yakni, suatu organisasi yang terdiri dari metode
dan catatan-catatan yang dibuat untuk mengidentifika-sikan, mengumpulkan,
menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi serta
menyelenggarakan pertanggungjawaban bagi aktiva dan kewajiban berkaitan.
c. Prosedur Pengendalian (Control Procedure)
yakni, kebijakan dan prosedur–prosedur yang
tercakup dalam lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi yang diterapkan oleh
manajemen untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa tujuan tertentu akan dapat
dicapai. Metode dan catatan-catatan yang dibuat untuk identifikasi, mengumpulkan, menganalisa, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi dan menyelenggarakan pertanggungjawaban dan kewajiban yang berkaitan meliputi Otorisasi dan kegiatan yang Memadai, Pemisahan Tugas, Desain dan Penggunaan Dokumen serta Catatan yang Memadai, Penjagaan Asset dan Pencatatannya yang Memadai, Pemeriksaan Independen Atas Kinerja.
Pengendalian yang memadai merupakan tali pengikat yang kuat diantara 4 fungsi manajemen lainnya yakni:
1. Pengendalian memerlukan penetapan standar dan metode pengukuran prestasi.
2. Pengendalian pada dasarnya adalah mengukur
prestasi kerja.
3. Pengendalian membandingkan prestasi kerja dengan standar ukur yang telah ditetapkan.
4. Pengendalian merupakan tindakan yang sifatnya korektif, yakni suatu perbaikan terhadap hasil yang dicapai agar mencapai standar yang diinginkan manajemen.

Tujuan audit dan prosedur audit pada:
1. Disaster recovery planning adalah suatu pernyataan yang menyeluruh mengenai tindakan konsisten yang harus diambil sebelum, selama, dan setelah suatu peristiwa yang mengganggu yang menyebabkan suatu kerugian penting sumber daya sistem informasi. Disaster recovery plan adalah prosedur untuk merespons suatu keadaan darurat, menyediakan backup operasi selama gangguan terjadi, dan mengelola pemulihan dan menyelamatkan proses sesudahnya. Sasaran pokok disaster recover plan adalah untuk menyediakan kemampuan dalam menerapkan proses kritis di lokasi lain dan mengembalikannya ke lokasi dan kondisi semula dalam suatu batasan waktu yang memperkecil kerugian kepada organisasi, dengan pelaksanaan prosedur recovery yang cepat.

Tujuan dan Sasaran DRP :
Tujuan DRP yang utama adalah untuk menyediakan suatu cara yang terorganisir untuk membuat keputusan jika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Tujuan disaster recovery plan adalah untuk mengurangi kebingungan organisasi dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk berhubungan dengan krisis tersebut.
Sesungguhnya, ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi, organisasi tidak akan mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan melaksanakan suatu rencana pemulihan dengan segera. Oleh karena itu, jumlah perencanaan dan pengujian yang telah dilakukan sebelumnya akan menentukan kemampuan organisasi tersebut dalam mengangani suatu bencana.

DRP mempunyai banyak sasaran, dan masing-masing sasaran tersebut penting. Sasaran-sasaran tersebut meliputi:
Melindungi suatu organisasi dari kegagalan penyediaan jasa komputer.
Memperkecil risiko keterlambatan suatu organisasi dalam menyediakan jasa.
Menjamin keandalan sistem melalui pengujian dan simulasi.
Memperkecil pengambilan keputusan oleh personil selama suatu bencana.

Tahapan DRP ini meliputi:
Proses DRP
Pengujian disaster recovery plan
Prosedur disaster recovery

Proses Disaster Recovery Planning
Tahap ini meliputi mengembangan dan pembuatan rencana recovery yang mirip dengan proses BCP. Di sini, kita mengasumsikan bahwa identifikasi itu telah dibuat dan dasar pemikiran telah diciptakan. Sekarang kita tinggal menentukan langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk melindungi bisnis itu ketika bencana yang sebenarnya terjadi.

Langkah-Langkah di dalam tahap disaster planning process adalah sebagai berikut:
Data Processing Continuity Planning. Perencanaan ketika terjadi bencana dan menciptakan rencana untuk mengatasi bencana tersebut.
Disaster Recovery Plan Maintenance. Melihara rencana tersebut agar selalu diperbarui dan relevan.
1. Data Processing Continuity Planning
Berbagai cara proses backup adalah unsur-unsur terpenting dalam disaster recovery plan. Di bawah ini dapat lihat jenis-jenis proses yang paling umum:
Mutual aid agreements
Subcription services
Multiple centers
Service bureaus
Data center backup alternatif lainnya.

a. Mutual Aid Agreements
Mutual aid agreements adalah suatu perjanjian dengan perusahaan lain yang mungkin punya kebutuhan komputasi serupa. Perusahaan lain mungkin punya bentuk wujud perangkat lunak atau perangkat keras serupa, atau memerlukan komunikasi data jaringan yang sama atau akses internet yang serupa dengan organisasi milik kita.
Di dalam persetujuan ini, kedua belah pihak setuju untuk mendukung satu sama lain ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Persetujuan ini dibuat dengan asumsi bahwa masingmasing operasi organisasi mempunyai kapasitas untuk mendukung operasi organisasi lain yang sejenis pada saat diperlukan.
Ada keuntungan yang jelas dari perjanjian ini. Hal ini memungkinkan suatu organisasi untuk memperoleh tempat sementara untuk melakukan kegiatan operasionalnya ketika terjadi bencana dengan biaya yang sangat kecil atau tanpa biaya sama sekali. Juga, jika perusahaan mempunyai kebutuhan proses yang serupa, seperti sistem operasi jaringan yang sama, kebutuhan komunikasi data yang sama, atau prosedur proses transaksi yang sama prosedur, persetujuan jenis ini mungkin tepat dan dapat dilakukan.
Persetujuan jenis ini mempunyai kerugian serius pula, bagaimanapun, dan benar-benar harus dipertimbangkan hanya jika organisasi mempunyai mitra yang sempurna dan tidak punya alternatif lain terhadap disaster recovery. Satu kerugiannya adalah mau tidak mau masing-masing infrastruktur organisasi harus mempunyai ekstra kapasitas yang tak terpakai untuk memungkinkan pengolahan operasional penuh sepanjang peristiwa yang mengganggu terjadi.
Kekurangan yang paling besar dalam rencana jenis ini adalah apa yang akan terjadi ketika bencana tersebut cukup besar dan mempengaruhi kedua organisasi tersebut. Ketika keduanya mengalami bencana, keuntungan yang sedianya bisa diperoleh menjadi tidak lagi dimungkinkan.

b. Subscription Services
Jenis skenario lain yaitu dengan menggunakan jasa langganan (subcription services). Di dalam skenario ini, pihak ketiga, jasa komersial menyediakan proses backup dan fasilitas pemrosesannya. Jasa Langganan mungkin yang paling umum dilakukan. Jenis ini mempunyai kerugian dan keuntungan yang sangat spesifik.
Terdapat tiga bentuk dasar subcription service dengan beberapa variasi:
• Hot Site
Ini adalah lokasi backup alternatif yang paling hebat. Hot site adalah suatu tempat yang mempunyai fasilitas komputer yang dipasok dengan daya listrik, pemanasan, ventilasi, dan proses pengaturan suhu, dan berfungsi sebagai file/print server dan workstation. Aplikasi yang diperlukan untuk mendukung proses transaksi secara remote di-install pada server dan workstation dan dijaga agar selalu up-to-date sesuai dengan kondisi operasional biasa. Lokasi jenis ini memerlukan pemeliharaan perangkat keras, perangkat lunak, data, dan aplikasi yang teratur untuk menjaga kesesuaian dengan kondisi biasanya. Hal ini memerlukan biaya administratif yang lebih dan cukup menghabiskan sumber daya.
Keuntungan dari hot site ini cukup banyak. Keuntungan yang utama adalah bahwa ketersediannya selama 24/7. Hot site dapat digunakan secara cepat dan tersedia (atau di dalam toleransi waktu yang diperbolehkan) sesaat setelah peristiwa yang mengganggu terjadi.
• Warm Site
Warm site merupakan kombinasi antara hot site dan cold site. Seperti halnya hot site, pada warm site terdapat suatu fasilitas komputer yang tersedia dengan daya listrik dan HVAC, tetapi aplikasinya belum di-install atau dikonfigurasi. Untuk memungkinkan pengolahan secara remote pada lokasi jenis ini, workstation harus dikirimkan dengan cepat; dan aplikasi dan data mereka perlu di-restore dari backup media. Keuntungan warm site adalah sebagai berikut: Harga. Lebih murah dibanding hot site. Lokasi. Lokasi bisa dipilih lebih fleksibel. Sumber daya. Sumber daya yang digunakan lebih sedikit daripada sumber daya yang dibutuhkan hot site. Kerugian yang utama dibandingkan dengan hot site, adalah diperlukannya waktu dan usaha yang lebih besar untuk memulai proses recovery di tempat yang baru. Jika proses operasional
transaksi tidak begitu penting dan kritis, warm site dapat menjadi pilihan yang tepat.
• Cold Site
Cold site merupakan pilihan paling tidak siap dari ketiga pilihan yang ada, tetapi mungkin yang paling umum. Cold site berbeda dengan dua yang lain, cold site merupakan suatu ruang dengan daya listrik dan HVAC, tetapi komputer harus dibawa dari luar jika diperlukan, dan link komunikasi bisa ada ataupun tidak. File/print server harus dibawa masuk, seperti halnya semua workstation, dan aplikasi perlu diinstall dan data di-resore dari backup.
Ada beberapa keuntungan cold site, bagaimanapun, yang menjadi alasan utama adalah biaya. Jika suatu organisasi mempunyai anggaran sangat kecil untuk suatu lokasi proses backup alternatif, cold site mungkin lebih baik dibanding tidak ada sama sekali.
b. Multiple Centers
Variasi untuk lokasi alternatif yang sebelumnya telah disebutkan sebelumnya dinamakan multiple centers, atau lokasi rangkap. Dalam suatu konsep multiple-center, proses pengolahan tersebar di beberapa pusat operasi, menciptakan suatu pendekatan reduncancy dan pembagian sumber daya tersedia. Multiple-center ini dimiliki dan diatur oleh organisasi yang sama (lokasi in-house) atau penggunaan bersama dengan beberapa macam persetujuan timbal balik. Keuntungannya terutama hanya semata-mata masalah finansial. Kerugian yang utama adalah relatif lebih sulit untuk dikelola.
c. Service Bureaus
Dalam kasus yang langka, suatu organisasi dapat mengontrak suatu kantor jasa/layanan untuk secara penuh menyediakan semua proses backup. Keuntungan yang besar pada jenis ini adalah ketersediaan dan tanggapan yang cepat kantor jasa/layanan dan uji coba bisa dilakukan.Kerugian dari jenis ini adalah biaya yang dibutuhkan cukup besar.
2. Disaster Recovery Plan Maintenance
Disaster Recovery Plan sering kali kadaluarsa. Perusahaan dapat menyusun kembali DRP-nya, bisnis unit yang kritis mungkin berbeda dibanding ketika rencana yang yang pertama diciptakan. Yang paling umum adalah berubahnya infrastruktur jaringan atau infrastruktur komputasi berubah (perangkat keras, perangkat lunak, dan lain komponennya). Pertimbangan boleh jadi administratif: DRP yang kompleks tidaklah dengan mudah dibaharui, personil kehilangan minat, atau terjadinya pergantian karyawan yang mempengaruhi keterlibatannya.
Apapun alasannya, merencanakan teknik pemeliharaan harus dimulai sejak dari permulaan untuk memastikan bahwa rencana tersebut selalu up-to-date dan dapat dipakai. Adalah penting untuk membangun prosedur pengelolaan ke dalam organisasi dengan memasukkannya ke dalam job description masing-masing staf yang memusatkan tanggung jawab untuk selalu diperbaharui. Juga, menciptakan prosedur audit yang dapat melaporkan secara teratur atas status rencana tersebut. Adalah juga penting memastikan bahwa tidak ada versi yang ganda atas rencana tersebut, sebab hal tersebut bisa menciptakan kebingungan ketika terjadi suatu keadaan darurat.
Lima Jenis Tes Disaster Recovery Plan :
Ada 5 tipe tes rencana pemulihan bencana. Susunan di bawah ini adalah berdasarkan prioritas,dari yang paling sederhana hingga jenis/tipe tes yang paling lengkap.Setiap tes terlibat secara lebih progresif dan lebih akurat melukiskan tanggung jawab actual perusahaan. Beberapa tipe-tipe tes, contohnya dua yang terakhir memerlukan investasi besarbaik waktu, sumber daya dan koordinasi saat implementasi.
Berikut ini adalah jenis/tipe tes :
Checklist Test. Duplikasi dari rencana tersebut didistribusikan ke masing-masing business units management. Rencana tersebut kemudian di-review untuk menjamin rencana tersebut terhubungkan kesemua prosedur-prosedur dan area-area organisasi yang critical. Kenyataannya, ini dianggap sesuatu langkah pendahuluan tes yang nyata dan bukan tes yang memuaskan.
Simulation Test. Selama tes simulasi, seluruh personil operasional dan support diharapkan menjalankan actual emergency meet pada sesi latihan. Tujuannya di sini adalah untuk menguji kemampuan personil dalam merespons simulasi bencana. Simulasi tersebut mengarah pada point relokasi untuk alternatif backup site atau menentukan prosedur pemulihan, tetapi tidakdilaksanakan proses pemulihan aktual atau proses alternatif.
Paralel Test. Paralel adalah tes penuh dari rencana recovery, dengan menggunakan seluruh personil. Perbedaan antara paralel test dengan full interruption test selanjutnya adalah proses produksi utama pada bisnis tidak berhenti. Tujuan dari tes jenis ini adalah untuk memastikan bahwa critical system akan berjalan aktual pada alternatif proses backup site. Sistem-sistem tersebut direlokasikan ke site alternatif , proses paralel mulai dijalankan dan hasil transaksitransaksi dan elemen-elemen lainnya yang dibandingkan. Tipe ini yang paling umum dari tes disaster recovery plan.
Full Interruption Test. Selama full interruption test, sesuatu bencana direplikasikan langsung ke sesuatu saat pelaksanaan produksi normal yang terhenti. Rencana tersebut secara keseluruhan di implementasikan seperti sebuah bencana yang nyata, langsung melibatkan emergency sevices (meskipun untuk tes yang lebih besar, local authorities mungkin di informasikan dan membantu cordinate). Tes tersebut merupakan bentuk tes yang sangat menakutkan, dari mana ini dapat menyebabkan sesuatu bencana pada tes tersebut. Ini juga merupakan jalan yang terbaik yang paling pasti untuk menguji disaster recovery plan.

Tahapan Disaster Recovery Plan adalah sebagai berikut :
1. REDUNDANT atau Dual Input POWER SOURCE
Siapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga kita terapkan pada DUAL Input power ke UPS kita. Jika tidak ada Genset, kita juga bisa memanfaatkan Input sumber daya yang lain seperti tenaga Surya, dll.
a. Input Power dari PLN.
b. Input Power dari GENSET.
c. Input Power dari Power Source lain.
2. DUAL UPS atau Redundant UPS to PSU
a. UPS A
b. UPS B
Kita gunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit. Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit ( PSU ). Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain.
3. DUAL POWER SUPPLY UNIT ( per server )
a. PSU A dengan power input dari UPS A
b. PSU B dengan power input dari UPS B
Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin.

4. LOCAL STORAGE RAID System untuk OS
RAID System ( Redundant Array of Inexpensive Disks ) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk.

Tujuannya adalah jika salah satu atau beberapa harddisk dari suatu kelompok harddisk mengalami kerusakan, maka sekelompok harddisk tersebut secara fungsi tidak mengalami problem sehingga kita tidak sampai mengalami kehilangan data. Pada RAID System ini dianjurkan mengunakan harddisk HotPlug atau harddisk HotSwap, sehingga dengan harddisk ini kita tidak perlu mematikan server untuk proses pengantian harddisk yang rusak tersebut.System RAID yang dapat kita gunakan adalah :
a. RAID 1+0 / Mirror ( minimal ), lebih bagus lagi pake RAID5 atau RAID6 .
b. RAID5 => ( N=N-1 ), 1 buah harddisk yang dialokasikan untuk Fault Tolerance.
c. RAID6 / RAID ADG ( Advanced Data Guard ) => ( N=N-2 ), 2 buah harddisk yang dialokasikan untuk Fault Tolerance.
5. DUAL / REDUNDANT Connection LAN per server
Mengunakan 2 LAN Card atau lebih tentu akan menjamin Availability server dalam jaringan jika terjadi kerusakan pada LAN Card Server. Sehingga jika salah satu koneksi LAN putus maka koneksi LAN yang lain dapat mengambil alih koneksi atau otomatis Take Over. Redundant Connection ini dapat berupa :
a. NIC / LAN Card untuk Redundant Connection & Load Balancing
b. FO untuk Redundant Connection (Server ke SAN / NAS & FO antar Switch)

6. REDUNDANT Connection EXTERNAL STORAGE
Protection untuk OS, Database & Fileserver External Storage berupa SAN ( Storage Area Network ) ataupun NAS ( Network Attach Storage ) saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan pokok dalam Server System. Redundant Connection dari Server ke External Storage ini sangat penting karena sangat membantu dalam menigkatkan proteksi storage sesuai sehingga fungsional Data Storage dapat befungsi sebagaimana mestinya. Koneksi dari Server ke External Storage berupa Fiber Optic ( FO ) atau Ethernet Connection ( iSCSI ) dan proteksi ke storage kita berupa :
a. System RAID (RAID 1+0, RAID5 atau RAID6)
b. ASM & OMF ( khusus untuk Database Oracle )

7. TAPE BACKUP, Tape Library atau Vitual Tape Library ( VTL )
Tape Backup adalah Proteksi Data lebih lanjut baik ke External Catriedge maupun Virtual Tape Library yang selanjutnya Tape Catriedge di simpan ke suatu tempat khusus agar jika terjadi disaster ( musibah ) dapat digunakan untuk recovery data dengan cepat.
a. Tape Backup Convensional dengan Catriedge yang memadai
b. FO untuk Redundant Connection (dari Server ke Library atau VTL / Virtual Tape library)
8. SERVER REPLICATION TECHNOLOGY
Technology yang di implementasikan pada Server kita sangat berperan penting, misalnya pada Single Server jika terjadi problem ringan seperti RESTART Server, Update Patch, dll butuh waktu untuk Downtime 5 menit hingga 15 menit untuk proses Running Up Server. Apalagi problem fatal maka butuh waktu sekitar 1 jam lebih untuk Re-Building Server yang sama seperti semula. Maka dengan Technology Server Replication maka Downtime Server tersebut bisa di minimalkan bahkan bisa di tekan hingga hingga ZERO Downtime.
Ada 2 macam teknik dalam Server Replication, yaitu :
a. MIRRORED SERVER
b. CLUSTERED SERVER
Pada Mirrored server dibutuhkan Intervensi IT Administrator untuk melakukan Switching atau TakeOver Server termasuk menjalankan Script agar Server Pasif dapat mengambil alih Server Aktif yang sedang Down. Sedangkan pada Clustered Server tidak lagi dibutuhkan intervensi IT Administrator karena Clustered Server bisa melakukan TakeOver secara otomatis. Pada server penulis, proses TakeOver Clustered Server dari NODE1 ke NODE2 di Windows Server 2003 hanya berjalan dalam hitungan sekitar 5 detik.

Clustered System adalah Teknik mengabungkan kemampuan atau kekuatan beberapa buah Server menjadi sebuah Server System yang Powerfull. Secara phisical, Clustered Server ini terdiri atas 2 buah Server atau lebih bahkan hingga ratusan Server. Namun secara System dikenali sebagai 1 buah Server System. Jadi Clustered Server merupakan manifestasi atau miniatur daripada Server Mainframe yang harganya sangat mahal, sehingga dengan menjadi Clustered Server biaya pembelian Server Mainframe dapat di gantikan dengan membangun Clustered Server.
9. SERVER CO-LOCATION
Server Colocation adalah Server production kita gunakan operasional sehari-hari yang di Replikasi-kan pada Server kita yang berada diluar Site Server kita. Misalnya di luar kota, di luar pulau bahkan di luar negeri. Implementasi ini sangat bergantung pada kecepatan bandwith koneksi yang kita miliki atau kita sewa dari ISP.
Ada 3 macam teknik dalam Server Co-Location, yaitu :
a. MIRRORED SERVER Co-Location
b. CLUSTERED SERVER Co-Location
c. BACKUP Storage to Co-Location Storage ( umumnya mengunakan NAS dengan iSCSI )

2. Pengendalian toleransi kegagalan system
Penerapan teknologi informasi untuk mendukung operasional sebuah organisasi atau organisasi, memberi dampak yang sangat besar terhadap kinerja organisasi. Semakin besar ketergantungan suatu organisasi, semakin besar pula kerugian yang akan dihadapi organisasi tersebut, bila terjadi kegagalan system informasinya. Bentuk kegagalan fungsi sistem informasi ini dapat beraneka ragam, mulai dari kegagalan sistem kelistrikan, serangan hacker, virus,pencurian data, bencana alam, sampai dengan adanya serangan teroris.
Toleransi kegagalan system dapat diwujudkan melalui implementasi beberapa komponen system yang redundan :
- Pedundant array of inexpensive (independent) disk (RAID). Terdapat beberapa jenis konfigugasi RAID. Pada dasarnya, setiap metode melibatkan penggunaan beberapa disket pararel yang berisai berbagai elemen data dan aplikasi yang redundan.
- Uninterruptable power supplies (UPS). Jika terjadi pemadaman listrik, maka sumber listrik cadangan dengan tenaga baterai yang tersedia akan memungkinkan system untuk mematikan dirinya secara terkendali.
- Multipemerosesan. Penggunaan yang simultan dua atau lebih prosesor meningkatkan jumlah pemerosesan yang dapat dijalankan dalam operasi normal.

3. Pengendalian keseluruhan sistem
Jika integritas sistem informasi menjadi lemah, maka pengendalian dalam tiap aplikasi akuntansi mungkin akan menjadi lemah pula atau dinetralkan. Karena sistem informasi adalah hal yang digunakan semua pengguna, semakin besar suatu fasilitas komputer maka akan makin tinggi skala potensi kerusakannya. Jadi, dengan semakin banyaknya sumber daya komputer yang digunakan bersama dalam adanya suatu komunitas pengguna yang selalu bertambah, keamanan sistem operasi menjadi isu pengendalian yang penting.
Pengendalian ini untuk memberikan keyakinan bahwa :
(1) pengujian,penggantian, implementasi dan dokumentasi dari sistem yang baru atau yang diperbaiki ,
(2) perubahan terhadap sistem dokumentasi ,
(3) akses terhadap sistem aplikasi dan
(4) pembelian sistem aplikasi dari pihak ketiga.

4. Kebijakan password / kata sandi
Password adalah kode rahasia yang dimasukkan oleh pengguna agar bias diakses sistem, aplikasi, file data, atau network server. Jika pengguna tidak dapat memasukkan password yang benar, maka sistem operasi akan menolak akses dari pengguna lainnya.
Di terapkannya kebijakan password adalah untuk mengurangi:
- Resiko kerugian fisik
- Resiko kehilangan data
- Resiko pengguna akhir
- Resiko prosedur pembuatan cadangan yang tidak memadai
- Resiko sulitnya melaksanakan audit pada system.

5. Pengendalian Jejak Audit Elektronik
Audit trail adalah logs yang dapat didisain untuk mencatat aktivitas di dalam sistem, aplikasi yang digunakan, dan pengguna dari sistem.Tujuan audit: memastikan bahwa pemeriksaan terhadap users dan events cukup memadai untuk mencegah dan mendeteksi penyalahgunaan sistem, merekonstruksi kejadian-kejadian yang menyebabkan kegagalan sistem, serta merencanakan alokasi sumber daya.
Jejak audit dapat digunakan untuk mendukung tujuan keamanan melalui tiga cara :
- Mendeteksi adanya akses tidak sah ke system. Mendeteksi akses tidak sah dapat terjadi secara real-time atau setelah kejadian. Tujuan utama dari deteksi untuk menembus adanya pengendalian system.
- Rekonstuksi peristiwa. Analisis audit dapat digunakan untuk merekonstruksi berbagai tahapan yang dapat mengarah pada berbagai peristiwa seperti adanya kegagalan system yang dapat merusak kerja system. Tindak Pelanggaran kemananini biasa dilakukan oleh seseorang.
- Meningkatkan akuntabilitas personal. Jejak audit dapat digunakan untuk memonitor aktivitas pengguna dari tingkat perincian level yang terendah hingga ke level perincian yang tertinggi. Kemampuan ini adalah pengendalian preventif yang dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku pengguna atau user.

6. Pengembangan Sistem dan Prosedur Pemeliharaan yang tidak memadai
Banyak perusahaan membutuhkan suatu system informasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi bisnis khususnya. Perusahaan-perusahaan ini mendesain sendiri sistem informasi melalui aktivitas pengembangan system yang dilakukan secara internal. Pengembangan secara internal membutuhkan keberadaan staff sistem tetap yang bertugas sebagai analisis serta programmer yang akan mengidentifikasi kebutuhan informasi para pengguna dan memuaskan kebutuhan mereka melalui sistem yang ada dan telah disesuaikan.
Pemeliharaan sistem adalah proses optimalisasi yang bertujuan mengidentifikasi system yang terbaik. Keputusan ini mewakili tahap yang sangat penting dalam SDLC.
Proses evaluasi dan pemeliharaan melibatkan 2 tahapan :
- Melakukan studi kelayakan yang terperinci
- Melakukan analisis biaya – manfaat.
Tujuan pengendalian pengembangan system adalah sebagai berikut:
1. Untuk menjamin bahwa seluruh kegiatan pengembangan sistem telah diotorisasikan, diuji, ditelaah, didokumentasikan, disetujui, dan diterapkan.
2. Untuk menjamin bahwa standar, kebijakan dan prosedur-prosedur yang ada benar-benar dilaksanakan dalam membantu manajemen mengendalikan sistem dan kegiatan pemrograman.
3. Untuk menjamin bahwa sistem tersebut dapat diperiksa (auditable).
4. Untuk melindungi data, program, dan komputer dari akses secara tidak sah, manipulasi penghancuran dan pencurian.
5. Untuk menjamin kecukupan supervisi dan prosedur operasi untuk mengimbangi kurangnya pemisahan berbagai pekerjaan antara pengguna, programer, dan operator.
6. Untuk Menerapkan bahwa adanya prosedur pembuatan cadangan untuk mencegah kehilangan data serta program karena kegagalan sistem, kesalahan, dan sebagainya.
7. Untuk menjamin bahwa sistem bebas dari virus dan cukup terlindungi untuk meminimalkan resiko terinfeksi virus atau objek yang hampir sama lainnya.

Prosedur Audit adalah sebagai Berikut:
1. Memeriksa kebijakan perusahaan terhadap pemisahaan fungsi yang tidak kompatibel dan memastikan perusahaan membuat keamanan yang beralasan.
2. Memeriksa hak-hak istimewa dari grup pengguna maupun individu untuk menentukan apakah hak istimewa mereka telah sesuai dengan posisi dan deskripsi pekerjaannya. Auditor sebaiknya memeriksa apakah individu tersebut diberikan akses terhadap data dan program berdasarkan kebutuhan saja.
3. Memeriksa catatan atau latar belakang pegawai untuk menentukan apakah hak istimewa dari pegawai digunakan dengan kecukupan pemeriksaan keamanan secara intensif sebagai kepatuhan terhadap kebijakan perusahaan.
4. Memeriksa catatan pegawai untuk menentukan apakah pengguna secara formal telah mengetahui tanggung jawabnya untuk memelihara kerahasiaan dari data perusahaan.
5. Memeriksa frekuensi izin penggunaan dari pengguna. Izin penggunaan harus sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan
6. Auditor harus mengkonfirmasikan bahwa laporan transaksi yang di proses, daftar akun yang diperbarui, dan total pengendalian dibuat, disebarluaskan, dan direkonsiliasi oleh pihak manajemen yang terkait secara reguler dan tepat waktu
7. Jika dibutuhkan, auditor harus menentukan apakan pengendalian kata sandi multitingkat digunakan untuk membatasi akses ke data dan aplikasi.

Sumber : MODUL Teori EDP dan EDP Audit DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI POST CLEARANCE AUDIT (PCA)

Tugas Audit SI 2

Tujuan pengendalian keseluruhan sistem
Pengendalian audit sistem informasi dikembangkan dengan mempehatikan tujuan
spesifik pengolahan informasi, sehingga tidakada informasi yang sifatnya bias dan jauh darikeputusan yang semestinya.Pengendaliam sistem dapat dikatakan sebagai
suatu fungsi manajemen yang bertujuan untuk mengusahakan agar aktivitas sistem informasi dapat berjalan sesuai dengan perencanaan Keterkaitan antara audit sistem informasi terhadap kegiatan usaha manajemen dalam rangka mencapai tujuan menyadarkan pentingnya bahwa tidak ada suatu sistem yang benar-benar sempurna
dan bebas dari penyimpangan sehingga tidak diperlukan suatu pengendalian.
Oleh karena itu, audit sistem informasi berorientasi pada 3 lingkungan manajemen, dari
level pencak, menengah dan terbawah. Adapun data yang dikelola menyangkut prosedur sistem berbasis keuangan dan non keuangan pengendalian interen mengarahkan aktivitas organisasi usaha untuk mencapai tujuan.
Sistem ini terdiri dari kebijakan dan prosedurprosedur untuk menyediakan jaminan yang memadai bahwa tujuan perusahaan dapat tercapi tanpa hambatan. Konsep struktur pengendalian interen dasarkan dua premis utama, yakni tanggung jawab manajemen dan jaminan yang memadai. Tujuan audit sistem informasi adalah untuk meninjau ulang (review) dan mengevaluasi pengawasan internal yang diaplikasikan untuk
menjaga keamanan, memeriksa tingkat kepercayaansistem informasi dan mereview operasional sistem aplikasi.

Prosedur Pengendalian keseluruhan Sistem
Pada dasarnya Alat dari sistem pengendalian yang umum dilakukan adalah dibagi dua yaitu pengendalian Umum (General Control) dan Pengendalian Aplikasi (Application Control) yang mengacu pada tiga komponen atau elemen sebagai struktur pengendalian intern berupa Lingkungan pengendalian, Sistem Akuntansi dan Prosedur-prosedur Pengendalian.
a. Lingkungan pengendalian (Control Environment) yakni, suatu batasan dalam
organisasi yang memberikan pengaruh kolektif dari berbagai faktor untuk menetapkan,
menigkatkan atau memperbaiki efektivitas kebijakan dan prosedur-prosedur tertentu.
Faktor-faktor ini antara lain: Filosofi dan gaya operasional manajemen, Struktur
organisasi,Fungsi dewan komisaris dan anggota-anggota, Metode pembebanan otoritas
dan tanggung jawab, Metode-metode pengendalian manajemen, Fungsi audit interen,
Kebijakan dan praktek-praktek kepegawaian, Pengaruh dari luar yang berkaitan dengan
Perusahaan
b. Sistem Akuntansi (Accounting Systems)
yakni, suatu organisasi yang terdiri dari metode
dan catatan-catatan yang dibuat untuk mengidentifika-sikan, mengumpulkan,
menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi serta
menyelenggarakan pertanggungjawaban bagi aktiva dan kewajiban berkaitan.
c. Prosedur Pengendalian (Control Procedure)
yakni, kebijakan dan prosedur–prosedur yang
tercakup dalam lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi yang diterapkan oleh
manajemen untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa tujuan tertentu akan dapat
dicapai. Metode dan catatan-catatan yang dibuat untuk identifikasi, mengumpulkan, menganalisa, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi dan menyelenggarakan pertanggungjawaban dan kewajiban yang berkaitan meliputi Otorisasi dan kegiatan yang Memadai, Pemisahan Tugas, Desain dan Penggunaan Dokumen serta Catatan yang Memadai, Penjagaan Asset dan Pencatatannya yang Memadai, Pemeriksaan Independen Atas Kinerja.
Pengendalian yang memadai merupakan tali pengikat yang kuat diantara 4 fungsi manajemen lainnya yakni:
1. Pengendalian memerlukan penetapan standar dan metode pengukuran prestasi.
2. Pengendalian pada dasarnya adalah mengukur
prestasi kerja.
3. Pengendalian membandingkan prestasi kerja dengan standar ukur yang telah ditetapkan.
4. Pengendalian merupakan tindakan yang sifatnya korektif, yakni suatu perbaikan terhadap hasil yang dicapai agar mencapai standar yang diinginkan manajemen.

Tujuan audit dan prosedur audit pada:
1. Disaster recovery planning adalah suatu pernyataan yang menyeluruh mengenai tindakan konsisten yang harus diambil sebelum, selama, dan setelah suatu peristiwa yang mengganggu yang menyebabkan suatu kerugian penting sumber daya sistem informasi. Disaster recovery plan adalah prosedur untuk merespons suatu keadaan darurat, menyediakan backup operasi selama gangguan terjadi, dan mengelola pemulihan dan menyelamatkan proses sesudahnya. Sasaran pokok disaster recover plan adalah untuk menyediakan kemampuan dalam menerapkan proses kritis di lokasi lain dan mengembalikannya ke lokasi dan kondisi semula dalam suatu batasan waktu yang memperkecil kerugian kepada organisasi, dengan pelaksanaan prosedur recovery yang cepat.

Tujuan dan Sasaran DRP :
Tujuan DRP yang utama adalah untuk menyediakan suatu cara yang terorganisir untuk membuat keputusan jika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Tujuan disaster recovery plan adalah untuk mengurangi kebingungan organisasi dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk berhubungan dengan krisis tersebut.
Sesungguhnya, ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi, organisasi tidak akan mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan melaksanakan suatu rencana pemulihan dengan segera. Oleh karena itu, jumlah perencanaan dan pengujian yang telah dilakukan sebelumnya akan menentukan kemampuan organisasi tersebut dalam mengangani suatu bencana.

DRP mempunyai banyak sasaran, dan masing-masing sasaran tersebut penting. Sasaran-sasaran tersebut meliputi:
Melindungi suatu organisasi dari kegagalan penyediaan jasa komputer.
Memperkecil risiko keterlambatan suatu organisasi dalam menyediakan jasa.
Menjamin keandalan sistem melalui pengujian dan simulasi.
Memperkecil pengambilan keputusan oleh personil selama suatu bencana.

Tahapan DRP ini meliputi:
Proses DRP
Pengujian disaster recovery plan
Prosedur disaster recovery

Proses Disaster Recovery Planning
Tahap ini meliputi mengembangan dan pembuatan rencana recovery yang mirip dengan proses BCP. Di sini, kita mengasumsikan bahwa identifikasi itu telah dibuat dan dasar pemikiran telah diciptakan. Sekarang kita tinggal menentukan langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk melindungi bisnis itu ketika bencana yang sebenarnya terjadi.

Langkah-Langkah di dalam tahap disaster planning process adalah sebagai berikut:
Data Processing Continuity Planning. Perencanaan ketika terjadi bencana dan menciptakan rencana untuk mengatasi bencana tersebut.
Disaster Recovery Plan Maintenance. Melihara rencana tersebut agar selalu diperbarui dan relevan.
1. Data Processing Continuity Planning
Berbagai cara proses backup adalah unsur-unsur terpenting dalam disaster recovery plan. Di bawah ini dapat lihat jenis-jenis proses yang paling umum:
Mutual aid agreements
Subcription services
Multiple centers
Service bureaus
Data center backup alternatif lainnya.

a. Mutual Aid Agreements
Mutual aid agreements adalah suatu perjanjian dengan perusahaan lain yang mungkin punya kebutuhan komputasi serupa. Perusahaan lain mungkin punya bentuk wujud perangkat lunak atau perangkat keras serupa, atau memerlukan komunikasi data jaringan yang sama atau akses internet yang serupa dengan organisasi milik kita.
Di dalam persetujuan ini, kedua belah pihak setuju untuk mendukung satu sama lain ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Persetujuan ini dibuat dengan asumsi bahwa masingmasing operasi organisasi mempunyai kapasitas untuk mendukung operasi organisasi lain yang sejenis pada saat diperlukan.
Ada keuntungan yang jelas dari perjanjian ini. Hal ini memungkinkan suatu organisasi untuk memperoleh tempat sementara untuk melakukan kegiatan operasionalnya ketika terjadi bencana dengan biaya yang sangat kecil atau tanpa biaya sama sekali. Juga, jika perusahaan mempunyai kebutuhan proses yang serupa, seperti sistem operasi jaringan yang sama, kebutuhan komunikasi data yang sama, atau prosedur proses transaksi yang sama prosedur, persetujuan jenis ini mungkin tepat dan dapat dilakukan.
Persetujuan jenis ini mempunyai kerugian serius pula, bagaimanapun, dan benar-benar harus dipertimbangkan hanya jika organisasi mempunyai mitra yang sempurna dan tidak punya alternatif lain terhadap disaster recovery. Satu kerugiannya adalah mau tidak mau masing-masing infrastruktur organisasi harus mempunyai ekstra kapasitas yang tak terpakai untuk memungkinkan pengolahan operasional penuh sepanjang peristiwa yang mengganggu terjadi.
Kekurangan yang paling besar dalam rencana jenis ini adalah apa yang akan terjadi ketika bencana tersebut cukup besar dan mempengaruhi kedua organisasi tersebut. Ketika keduanya mengalami bencana, keuntungan yang sedianya bisa diperoleh menjadi tidak lagi dimungkinkan.

b. Subscription Services
Jenis skenario lain yaitu dengan menggunakan jasa langganan (subcription services). Di dalam skenario ini, pihak ketiga, jasa komersial menyediakan proses backup dan fasilitas pemrosesannya. Jasa Langganan mungkin yang paling umum dilakukan. Jenis ini mempunyai kerugian dan keuntungan yang sangat spesifik.
Terdapat tiga bentuk dasar subcription service dengan beberapa variasi:
• Hot Site
Ini adalah lokasi backup alternatif yang paling hebat. Hot site adalah suatu tempat yang mempunyai fasilitas komputer yang dipasok dengan daya listrik, pemanasan, ventilasi, dan proses pengaturan suhu, dan berfungsi sebagai file/print server dan workstation. Aplikasi yang diperlukan untuk mendukung proses transaksi secara remote di-install pada server dan workstation dan dijaga agar selalu up-to-date sesuai dengan kondisi operasional biasa. Lokasi jenis ini memerlukan pemeliharaan perangkat keras, perangkat lunak, data, dan aplikasi yang teratur untuk menjaga kesesuaian dengan kondisi biasanya. Hal ini memerlukan biaya administratif yang lebih dan cukup menghabiskan sumber daya.
Keuntungan dari hot site ini cukup banyak. Keuntungan yang utama adalah bahwa ketersediannya selama 24/7. Hot site dapat digunakan secara cepat dan tersedia (atau di dalam toleransi waktu yang diperbolehkan) sesaat setelah peristiwa yang mengganggu terjadi.
• Warm Site
Warm site merupakan kombinasi antara hot site dan cold site. Seperti halnya hot site, pada warm site terdapat suatu fasilitas komputer yang tersedia dengan daya listrik dan HVAC, tetapi aplikasinya belum di-install atau dikonfigurasi. Untuk memungkinkan pengolahan secara remote pada lokasi jenis ini, workstation harus dikirimkan dengan cepat; dan aplikasi dan data mereka perlu di-restore dari backup media. Keuntungan warm site adalah sebagai berikut: Harga. Lebih murah dibanding hot site. Lokasi. Lokasi bisa dipilih lebih fleksibel. Sumber daya. Sumber daya yang digunakan lebih sedikit daripada sumber daya yang dibutuhkan hot site. Kerugian yang utama dibandingkan dengan hot site, adalah diperlukannya waktu dan usaha yang lebih besar untuk memulai proses recovery di tempat yang baru. Jika proses operasional
transaksi tidak begitu penting dan kritis, warm site dapat menjadi pilihan yang tepat.
• Cold Site
Cold site merupakan pilihan paling tidak siap dari ketiga pilihan yang ada, tetapi mungkin yang paling umum. Cold site berbeda dengan dua yang lain, cold site merupakan suatu ruang dengan daya listrik dan HVAC, tetapi komputer harus dibawa dari luar jika diperlukan, dan link komunikasi bisa ada ataupun tidak. File/print server harus dibawa masuk, seperti halnya semua workstation, dan aplikasi perlu diinstall dan data di-resore dari backup.
Ada beberapa keuntungan cold site, bagaimanapun, yang menjadi alasan utama adalah biaya. Jika suatu organisasi mempunyai anggaran sangat kecil untuk suatu lokasi proses backup alternatif, cold site mungkin lebih baik dibanding tidak ada sama sekali.
b. Multiple Centers
Variasi untuk lokasi alternatif yang sebelumnya telah disebutkan sebelumnya dinamakan multiple centers, atau lokasi rangkap. Dalam suatu konsep multiple-center, proses pengolahan tersebar di beberapa pusat operasi, menciptakan suatu pendekatan reduncancy dan pembagian sumber daya tersedia. Multiple-center ini dimiliki dan diatur oleh organisasi yang sama (lokasi in-house) atau penggunaan bersama dengan beberapa macam persetujuan timbal balik. Keuntungannya terutama hanya semata-mata masalah finansial. Kerugian yang utama adalah relatif lebih sulit untuk dikelola.
c. Service Bureaus
Dalam kasus yang langka, suatu organisasi dapat mengontrak suatu kantor jasa/layanan untuk secara penuh menyediakan semua proses backup. Keuntungan yang besar pada jenis ini adalah ketersediaan dan tanggapan yang cepat kantor jasa/layanan dan uji coba bisa dilakukan.Kerugian dari jenis ini adalah biaya yang dibutuhkan cukup besar.
2. Disaster Recovery Plan Maintenance
Disaster Recovery Plan sering kali kadaluarsa. Perusahaan dapat menyusun kembali DRP-nya, bisnis unit yang kritis mungkin berbeda dibanding ketika rencana yang yang pertama diciptakan. Yang paling umum adalah berubahnya infrastruktur jaringan atau infrastruktur komputasi berubah (perangkat keras, perangkat lunak, dan lain komponennya). Pertimbangan boleh jadi administratif: DRP yang kompleks tidaklah dengan mudah dibaharui, personil kehilangan minat, atau terjadinya pergantian karyawan yang mempengaruhi keterlibatannya.
Apapun alasannya, merencanakan teknik pemeliharaan harus dimulai sejak dari permulaan untuk memastikan bahwa rencana tersebut selalu up-to-date dan dapat dipakai. Adalah penting untuk membangun prosedur pengelolaan ke dalam organisasi dengan memasukkannya ke dalam job description masing-masing staf yang memusatkan tanggung jawab untuk selalu diperbaharui. Juga, menciptakan prosedur audit yang dapat melaporkan secara teratur atas status rencana tersebut. Adalah juga penting memastikan bahwa tidak ada versi yang ganda atas rencana tersebut, sebab hal tersebut bisa menciptakan kebingungan ketika terjadi suatu keadaan darurat.
Lima Jenis Tes Disaster Recovery Plan :
Ada 5 tipe tes rencana pemulihan bencana. Susunan di bawah ini adalah berdasarkan prioritas,dari yang paling sederhana hingga jenis/tipe tes yang paling lengkap.Setiap tes terlibat secara lebih progresif dan lebih akurat melukiskan tanggung jawab actual perusahaan. Beberapa tipe-tipe tes, contohnya dua yang terakhir memerlukan investasi besarbaik waktu, sumber daya dan koordinasi saat implementasi.
Berikut ini adalah jenis/tipe tes :
Checklist Test. Duplikasi dari rencana tersebut didistribusikan ke masing-masing business units management. Rencana tersebut kemudian di-review untuk menjamin rencana tersebut terhubungkan kesemua prosedur-prosedur dan area-area organisasi yang critical. Kenyataannya, ini dianggap sesuatu langkah pendahuluan tes yang nyata dan bukan tes yang memuaskan.
Simulation Test. Selama tes simulasi, seluruh personil operasional dan support diharapkan menjalankan actual emergency meet pada sesi latihan. Tujuannya di sini adalah untuk menguji kemampuan personil dalam merespons simulasi bencana. Simulasi tersebut mengarah pada point relokasi untuk alternatif backup site atau menentukan prosedur pemulihan, tetapi tidakdilaksanakan proses pemulihan aktual atau proses alternatif.
Paralel Test. Paralel adalah tes penuh dari rencana recovery, dengan menggunakan seluruh personil. Perbedaan antara paralel test dengan full interruption test selanjutnya adalah proses produksi utama pada bisnis tidak berhenti. Tujuan dari tes jenis ini adalah untuk memastikan bahwa critical system akan berjalan aktual pada alternatif proses backup site. Sistem-sistem tersebut direlokasikan ke site alternatif , proses paralel mulai dijalankan dan hasil transaksitransaksi dan elemen-elemen lainnya yang dibandingkan. Tipe ini yang paling umum dari tes disaster recovery plan.
Full Interruption Test. Selama full interruption test, sesuatu bencana direplikasikan langsung ke sesuatu saat pelaksanaan produksi normal yang terhenti. Rencana tersebut secara keseluruhan di implementasikan seperti sebuah bencana yang nyata, langsung melibatkan emergency sevices (meskipun untuk tes yang lebih besar, local authorities mungkin di informasikan dan membantu cordinate). Tes tersebut merupakan bentuk tes yang sangat menakutkan, dari mana ini dapat menyebabkan sesuatu bencana pada tes tersebut. Ini juga merupakan jalan yang terbaik yang paling pasti untuk menguji disaster recovery plan.

Tahapan Disaster Recovery Plan adalah sebagai berikut :
1. REDUNDANT atau Dual Input POWER SOURCE
Siapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga kita terapkan pada DUAL Input power ke UPS kita. Jika tidak ada Genset, kita juga bisa memanfaatkan Input sumber daya yang lain seperti tenaga Surya, dll.
a. Input Power dari PLN.
b. Input Power dari GENSET.
c. Input Power dari Power Source lain.
2. DUAL UPS atau Redundant UPS to PSU
a. UPS A
b. UPS B
Kita gunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit. Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit ( PSU ). Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain.
3. DUAL POWER SUPPLY UNIT ( per server )
a. PSU A dengan power input dari UPS A
b. PSU B dengan power input dari UPS B
Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin.

4. LOCAL STORAGE RAID System untuk OS
RAID System ( Redundant Array of Inexpensive Disks ) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk.

Tujuannya adalah jika salah satu atau beberapa harddisk dari suatu kelompok harddisk mengalami kerusakan, maka sekelompok harddisk tersebut secara fungsi tidak mengalami problem sehingga kita tidak sampai mengalami kehilangan data. Pada RAID System ini dianjurkan mengunakan harddisk HotPlug atau harddisk HotSwap, sehingga dengan harddisk ini kita tidak perlu mematikan server untuk proses pengantian harddisk yang rusak tersebut.System RAID yang dapat kita gunakan adalah :
a. RAID 1+0 / Mirror ( minimal ), lebih bagus lagi pake RAID5 atau RAID6 .
b. RAID5 => ( N=N-1 ), 1 buah harddisk yang dialokasikan untuk Fault Tolerance.
c. RAID6 / RAID ADG ( Advanced Data Guard ) => ( N=N-2 ), 2 buah harddisk yang dialokasikan untuk Fault Tolerance.
5. DUAL / REDUNDANT Connection LAN per server
Mengunakan 2 LAN Card atau lebih tentu akan menjamin Availability server dalam jaringan jika terjadi kerusakan pada LAN Card Server. Sehingga jika salah satu koneksi LAN putus maka koneksi LAN yang lain dapat mengambil alih koneksi atau otomatis Take Over. Redundant Connection ini dapat berupa :
a. NIC / LAN Card untuk Redundant Connection & Load Balancing
b. FO untuk Redundant Connection (Server ke SAN / NAS & FO antar Switch)

6. REDUNDANT Connection EXTERNAL STORAGE
Protection untuk OS, Database & Fileserver External Storage berupa SAN ( Storage Area Network ) ataupun NAS ( Network Attach Storage ) saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan pokok dalam Server System. Redundant Connection dari Server ke External Storage ini sangat penting karena sangat membantu dalam menigkatkan proteksi storage sesuai sehingga fungsional Data Storage dapat befungsi sebagaimana mestinya. Koneksi dari Server ke External Storage berupa Fiber Optic ( FO ) atau Ethernet Connection ( iSCSI ) dan proteksi ke storage kita berupa :
a. System RAID (RAID 1+0, RAID5 atau RAID6)
b. ASM & OMF ( khusus untuk Database Oracle )

7. TAPE BACKUP, Tape Library atau Vitual Tape Library ( VTL )
Tape Backup adalah Proteksi Data lebih lanjut baik ke External Catriedge maupun Virtual Tape Library yang selanjutnya Tape Catriedge di simpan ke suatu tempat khusus agar jika terjadi disaster ( musibah ) dapat digunakan untuk recovery data dengan cepat.
a. Tape Backup Convensional dengan Catriedge yang memadai
b. FO untuk Redundant Connection (dari Server ke Library atau VTL / Virtual Tape library)
8. SERVER REPLICATION TECHNOLOGY
Technology yang di implementasikan pada Server kita sangat berperan penting, misalnya pada Single Server jika terjadi problem ringan seperti RESTART Server, Update Patch, dll butuh waktu untuk Downtime 5 menit hingga 15 menit untuk proses Running Up Server. Apalagi problem fatal maka butuh waktu sekitar 1 jam lebih untuk Re-Building Server yang sama seperti semula. Maka dengan Technology Server Replication maka Downtime Server tersebut bisa di minimalkan bahkan bisa di tekan hingga hingga ZERO Downtime.
Ada 2 macam teknik dalam Server Replication, yaitu :
a. MIRRORED SERVER
b. CLUSTERED SERVER
Pada Mirrored server dibutuhkan Intervensi IT Administrator untuk melakukan Switching atau TakeOver Server termasuk menjalankan Script agar Server Pasif dapat mengambil alih Server Aktif yang sedang Down. Sedangkan pada Clustered Server tidak lagi dibutuhkan intervensi IT Administrator karena Clustered Server bisa melakukan TakeOver secara otomatis. Pada server penulis, proses TakeOver Clustered Server dari NODE1 ke NODE2 di Windows Server 2003 hanya berjalan dalam hitungan sekitar 5 detik.

Clustered System adalah Teknik mengabungkan kemampuan atau kekuatan beberapa buah Server menjadi sebuah Server System yang Powerfull. Secara phisical, Clustered Server ini terdiri atas 2 buah Server atau lebih bahkan hingga ratusan Server. Namun secara System dikenali sebagai 1 buah Server System. Jadi Clustered Server merupakan manifestasi atau miniatur daripada Server Mainframe yang harganya sangat mahal, sehingga dengan menjadi Clustered Server biaya pembelian Server Mainframe dapat di gantikan dengan membangun Clustered Server.
9. SERVER CO-LOCATION
Server Colocation adalah Server production kita gunakan operasional sehari-hari yang di Replikasi-kan pada Server kita yang berada diluar Site Server kita. Misalnya di luar kota, di luar pulau bahkan di luar negeri. Implementasi ini sangat bergantung pada kecepatan bandwith koneksi yang kita miliki atau kita sewa dari ISP.
Ada 3 macam teknik dalam Server Co-Location, yaitu :
a. MIRRORED SERVER Co-Location
b. CLUSTERED SERVER Co-Location
c. BACKUP Storage to Co-Location Storage ( umumnya mengunakan NAS dengan iSCSI )

2. Pengendalian toleransi kegagalan system
Penerapan teknologi informasi untuk mendukung operasional sebuah organisasi atau organisasi, memberi dampak yang sangat besar terhadap kinerja organisasi. Semakin besar ketergantungan suatu organisasi, semakin besar pula kerugian yang akan dihadapi organisasi tersebut, bila terjadi kegagalan system informasinya. Bentuk kegagalan fungsi sistem informasi ini dapat beraneka ragam, mulai dari kegagalan sistem kelistrikan, serangan hacker, virus,pencurian data, bencana alam, sampai dengan adanya serangan teroris.
Toleransi kegagalan system dapat diwujudkan melalui implementasi beberapa komponen system yang redundan :
- Pedundant array of inexpensive (independent) disk (RAID). Terdapat beberapa jenis konfigugasi RAID. Pada dasarnya, setiap metode melibatkan penggunaan beberapa disket pararel yang berisai berbagai elemen data dan aplikasi yang redundan.
- Uninterruptable power supplies (UPS). Jika terjadi pemadaman listrik, maka sumber listrik cadangan dengan tenaga baterai yang tersedia akan memungkinkan system untuk mematikan dirinya secara terkendali.
- Multipemerosesan. Penggunaan yang simultan dua atau lebih prosesor meningkatkan jumlah pemerosesan yang dapat dijalankan dalam operasi normal.

3. Pengendalian keseluruhan sistem
Jika integritas sistem informasi menjadi lemah, maka pengendalian dalam tiap aplikasi akuntansi mungkin akan menjadi lemah pula atau dinetralkan. Karena sistem informasi adalah hal yang digunakan semua pengguna, semakin besar suatu fasilitas komputer maka akan makin tinggi skala potensi kerusakannya. Jadi, dengan semakin banyaknya sumber daya komputer yang digunakan bersama dalam adanya suatu komunitas pengguna yang selalu bertambah, keamanan sistem operasi menjadi isu pengendalian yang penting.
Pengendalian ini untuk memberikan keyakinan bahwa :
(1) pengujian,penggantian, implementasi dan dokumentasi dari sistem yang baru atau yang diperbaiki ,
(2) perubahan terhadap sistem dokumentasi ,
(3) akses terhadap sistem aplikasi dan
(4) pembelian sistem aplikasi dari pihak ketiga.

4. Kebijakan password / kata sandi
Password adalah kode rahasia yang dimasukkan oleh pengguna agar bias diakses sistem, aplikasi, file data, atau network server. Jika pengguna tidak dapat memasukkan password yang benar, maka sistem operasi akan menolak akses dari pengguna lainnya.
Di terapkannya kebijakan password adalah untuk mengurangi:
- Resiko kerugian fisik
- Resiko kehilangan data
- Resiko pengguna akhir
- Resiko prosedur pembuatan cadangan yang tidak memadai
- Resiko sulitnya melaksanakan audit pada system.

5. Pengendalian Jejak Audit Elektronik
Audit trail adalah logs yang dapat didisain untuk mencatat aktivitas di dalam sistem, aplikasi yang digunakan, dan pengguna dari sistem.Tujuan audit: memastikan bahwa pemeriksaan terhadap users dan events cukup memadai untuk mencegah dan mendeteksi penyalahgunaan sistem, merekonstruksi kejadian-kejadian yang menyebabkan kegagalan sistem, serta merencanakan alokasi sumber daya.
Jejak audit dapat digunakan untuk mendukung tujuan keamanan melalui tiga cara :
- Mendeteksi adanya akses tidak sah ke system. Mendeteksi akses tidak sah dapat terjadi secara real-time atau setelah kejadian. Tujuan utama dari deteksi untuk menembus adanya pengendalian system.
- Rekonstuksi peristiwa. Analisis audit dapat digunakan untuk merekonstruksi berbagai tahapan yang dapat mengarah pada berbagai peristiwa seperti adanya kegagalan system yang dapat merusak kerja system. Tindak Pelanggaran kemananini biasa dilakukan oleh seseorang.
- Meningkatkan akuntabilitas personal. Jejak audit dapat digunakan untuk memonitor aktivitas pengguna dari tingkat perincian level yang terendah hingga ke level perincian yang tertinggi. Kemampuan ini adalah pengendalian preventif yang dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku pengguna atau user.

6. Pengembangan Sistem dan Prosedur Pemeliharaan yang tidak memadai
Banyak perusahaan membutuhkan suatu system informasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi bisnis khususnya. Perusahaan-perusahaan ini mendesain sendiri sistem informasi melalui aktivitas pengembangan system yang dilakukan secara internal. Pengembangan secara internal membutuhkan keberadaan staff sistem tetap yang bertugas sebagai analisis serta programmer yang akan mengidentifikasi kebutuhan informasi para pengguna dan memuaskan kebutuhan mereka melalui sistem yang ada dan telah disesuaikan.
Pemeliharaan sistem adalah proses optimalisasi yang bertujuan mengidentifikasi system yang terbaik. Keputusan ini mewakili tahap yang sangat penting dalam SDLC.
Proses evaluasi dan pemeliharaan melibatkan 2 tahapan :
- Melakukan studi kelayakan yang terperinci
- Melakukan analisis biaya – manfaat.
Tujuan pengendalian pengembangan system adalah sebagai berikut:
1. Untuk menjamin bahwa seluruh kegiatan pengembangan sistem telah diotorisasikan, diuji, ditelaah, didokumentasikan, disetujui, dan diterapkan.
2. Untuk menjamin bahwa standar, kebijakan dan prosedur-prosedur yang ada benar-benar dilaksanakan dalam membantu manajemen mengendalikan sistem dan kegiatan pemrograman.
3. Untuk menjamin bahwa sistem tersebut dapat diperiksa (auditable).
4. Untuk melindungi data, program, dan komputer dari akses secara tidak sah, manipulasi penghancuran dan pencurian.
5. Untuk menjamin kecukupan supervisi dan prosedur operasi untuk mengimbangi kurangnya pemisahan berbagai pekerjaan antara pengguna, programer, dan operator.
6. Untuk Menerapkan bahwa adanya prosedur pembuatan cadangan untuk mencegah kehilangan data serta program karena kegagalan sistem, kesalahan, dan sebagainya.
7. Untuk menjamin bahwa sistem bebas dari virus dan cukup terlindungi untuk meminimalkan resiko terinfeksi virus atau objek yang hampir sama lainnya.

Prosedur Audit adalah sebagai Berikut:
1. Memeriksa kebijakan perusahaan terhadap pemisahaan fungsi yang tidak kompatibel dan memastikan perusahaan membuat keamanan yang beralasan.
2. Memeriksa hak-hak istimewa dari grup pengguna maupun individu untuk menentukan apakah hak istimewa mereka telah sesuai dengan posisi dan deskripsi pekerjaannya. Auditor sebaiknya memeriksa apakah individu tersebut diberikan akses terhadap data dan program berdasarkan kebutuhan saja.
3. Memeriksa catatan atau latar belakang pegawai untuk menentukan apakah hak istimewa dari pegawai digunakan dengan kecukupan pemeriksaan keamanan secara intensif sebagai kepatuhan terhadap kebijakan perusahaan.
4. Memeriksa catatan pegawai untuk menentukan apakah pengguna secara formal telah mengetahui tanggung jawabnya untuk memelihara kerahasiaan dari data perusahaan.
5. Memeriksa frekuensi izin penggunaan dari pengguna. Izin penggunaan harus sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan
6. Auditor harus mengkonfirmasikan bahwa laporan transaksi yang di proses, daftar akun yang diperbarui, dan total pengendalian dibuat, disebarluaskan, dan direkonsiliasi oleh pihak manajemen yang terkait secara reguler dan tepat waktu
7. Jika dibutuhkan, auditor harus menentukan apakan pengendalian kata sandi multitingkat digunakan untuk membatasi akses ke data dan aplikasi.

Sumber : MODUL Teori EDP dan EDP Audit DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI POST CLEARANCE AUDIT (PCA)

Tugas Audit SI 2

Tujuan pengendalian keseluruhan sistem
Pengendalian audit sistem informasi dikembangkan dengan mempehatikan tujuan
spesifik pengolahan informasi, sehingga tidakada informasi yang sifatnya bias dan jauh darikeputusan yang semestinya.Pengendaliam sistem dapat dikatakan sebagai
suatu fungsi manajemen yang bertujuan untuk mengusahakan agar aktivitas sistem informasi dapat berjalan sesuai dengan perencanaan Keterkaitan antara audit sistem informasi terhadap kegiatan usaha manajemen dalam rangka mencapai tujuan menyadarkan pentingnya bahwa tidak ada suatu sistem yang benar-benar sempurna
dan bebas dari penyimpangan sehingga tidak diperlukan suatu pengendalian.
Oleh karena itu, audit sistem informasi berorientasi pada 3 lingkungan manajemen, dari
level pencak, menengah dan terbawah. Adapun data yang dikelola menyangkut prosedur sistem berbasis keuangan dan non keuangan pengendalian interen mengarahkan aktivitas organisasi usaha untuk mencapai tujuan.
Sistem ini terdiri dari kebijakan dan prosedurprosedur untuk menyediakan jaminan yang memadai bahwa tujuan perusahaan dapat tercapi tanpa hambatan. Konsep struktur pengendalian interen dasarkan dua premis utama, yakni tanggung jawab manajemen dan jaminan yang memadai. Tujuan audit sistem informasi adalah untuk meninjau ulang (review) dan mengevaluasi pengawasan internal yang diaplikasikan untuk
menjaga keamanan, memeriksa tingkat kepercayaansistem informasi dan mereview operasional sistem aplikasi.

Prosedur Pengendalian keseluruhan Sistem
Pada dasarnya Alat dari sistem pengendalian yang umum dilakukan adalah dibagi dua yaitu pengendalian Umum (General Control) dan Pengendalian Aplikasi (Application Control) yang mengacu pada tiga komponen atau elemen sebagai struktur pengendalian intern berupa Lingkungan pengendalian, Sistem Akuntansi dan Prosedur-prosedur Pengendalian.
a. Lingkungan pengendalian (Control Environment) yakni, suatu batasan dalam
organisasi yang memberikan pengaruh kolektif dari berbagai faktor untuk menetapkan,
menigkatkan atau memperbaiki efektivitas kebijakan dan prosedur-prosedur tertentu.
Faktor-faktor ini antara lain: Filosofi dan gaya operasional manajemen, Struktur
organisasi,Fungsi dewan komisaris dan anggota-anggota, Metode pembebanan otoritas
dan tanggung jawab, Metode-metode pengendalian manajemen, Fungsi audit interen,
Kebijakan dan praktek-praktek kepegawaian, Pengaruh dari luar yang berkaitan dengan
Perusahaan
b. Sistem Akuntansi (Accounting Systems)
yakni, suatu organisasi yang terdiri dari metode
dan catatan-catatan yang dibuat untuk mengidentifika-sikan, mengumpulkan,
menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi serta
menyelenggarakan pertanggungjawaban bagi aktiva dan kewajiban berkaitan.
c. Prosedur Pengendalian (Control Procedure)
yakni, kebijakan dan prosedur–prosedur yang
tercakup dalam lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi yang diterapkan oleh
manajemen untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa tujuan tertentu akan dapat
dicapai. Metode dan catatan-catatan yang dibuat untuk identifikasi, mengumpulkan, menganalisa, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi dan menyelenggarakan pertanggungjawaban dan kewajiban yang berkaitan meliputi Otorisasi dan kegiatan yang Memadai, Pemisahan Tugas, Desain dan Penggunaan Dokumen serta Catatan yang Memadai, Penjagaan Asset dan Pencatatannya yang Memadai, Pemeriksaan Independen Atas Kinerja.
Pengendalian yang memadai merupakan tali pengikat yang kuat diantara 4 fungsi manajemen lainnya yakni:
1. Pengendalian memerlukan penetapan standar dan metode pengukuran prestasi.
2. Pengendalian pada dasarnya adalah mengukur
prestasi kerja.
3. Pengendalian membandingkan prestasi kerja dengan standar ukur yang telah ditetapkan.
4. Pengendalian merupakan tindakan yang sifatnya korektif, yakni suatu perbaikan terhadap hasil yang dicapai agar mencapai standar yang diinginkan manajemen.

Tujuan audit dan prosedur audit pada:
1. Disaster recovery planning adalah suatu pernyataan yang menyeluruh mengenai tindakan konsisten yang harus diambil sebelum, selama, dan setelah suatu peristiwa yang mengganggu yang menyebabkan suatu kerugian penting sumber daya sistem informasi. Disaster recovery plan adalah prosedur untuk merespons suatu keadaan darurat, menyediakan backup operasi selama gangguan terjadi, dan mengelola pemulihan dan menyelamatkan proses sesudahnya. Sasaran pokok disaster recover plan adalah untuk menyediakan kemampuan dalam menerapkan proses kritis di lokasi lain dan mengembalikannya ke lokasi dan kondisi semula dalam suatu batasan waktu yang memperkecil kerugian kepada organisasi, dengan pelaksanaan prosedur recovery yang cepat.

Tujuan dan Sasaran DRP :
Tujuan DRP yang utama adalah untuk menyediakan suatu cara yang terorganisir untuk membuat keputusan jika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Tujuan disaster recovery plan adalah untuk mengurangi kebingungan organisasi dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk berhubungan dengan krisis tersebut.
Sesungguhnya, ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi, organisasi tidak akan mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan melaksanakan suatu rencana pemulihan dengan segera. Oleh karena itu, jumlah perencanaan dan pengujian yang telah dilakukan sebelumnya akan menentukan kemampuan organisasi tersebut dalam mengangani suatu bencana.

DRP mempunyai banyak sasaran, dan masing-masing sasaran tersebut penting. Sasaran-sasaran tersebut meliputi:
Melindungi suatu organisasi dari kegagalan penyediaan jasa komputer.
Memperkecil risiko keterlambatan suatu organisasi dalam menyediakan jasa.
Menjamin keandalan sistem melalui pengujian dan simulasi.
Memperkecil pengambilan keputusan oleh personil selama suatu bencana.

Tahapan DRP ini meliputi:
Proses DRP
Pengujian disaster recovery plan
Prosedur disaster recovery

Proses Disaster Recovery Planning
Tahap ini meliputi mengembangan dan pembuatan rencana recovery yang mirip dengan proses BCP. Di sini, kita mengasumsikan bahwa identifikasi itu telah dibuat dan dasar pemikiran telah diciptakan. Sekarang kita tinggal menentukan langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk melindungi bisnis itu ketika bencana yang sebenarnya terjadi.

Langkah-Langkah di dalam tahap disaster planning process adalah sebagai berikut:
Data Processing Continuity Planning. Perencanaan ketika terjadi bencana dan menciptakan rencana untuk mengatasi bencana tersebut.
Disaster Recovery Plan Maintenance. Melihara rencana tersebut agar selalu diperbarui dan relevan.
1. Data Processing Continuity Planning
Berbagai cara proses backup adalah unsur-unsur terpenting dalam disaster recovery plan. Di bawah ini dapat lihat jenis-jenis proses yang paling umum:
Mutual aid agreements
Subcription services
Multiple centers
Service bureaus
Data center backup alternatif lainnya.

a. Mutual Aid Agreements
Mutual aid agreements adalah suatu perjanjian dengan perusahaan lain yang mungkin punya kebutuhan komputasi serupa. Perusahaan lain mungkin punya bentuk wujud perangkat lunak atau perangkat keras serupa, atau memerlukan komunikasi data jaringan yang sama atau akses internet yang serupa dengan organisasi milik kita.
Di dalam persetujuan ini, kedua belah pihak setuju untuk mendukung satu sama lain ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Persetujuan ini dibuat dengan asumsi bahwa masingmasing operasi organisasi mempunyai kapasitas untuk mendukung operasi organisasi lain yang sejenis pada saat diperlukan.
Ada keuntungan yang jelas dari perjanjian ini. Hal ini memungkinkan suatu organisasi untuk memperoleh tempat sementara untuk melakukan kegiatan operasionalnya ketika terjadi bencana dengan biaya yang sangat kecil atau tanpa biaya sama sekali. Juga, jika perusahaan mempunyai kebutuhan proses yang serupa, seperti sistem operasi jaringan yang sama, kebutuhan komunikasi data yang sama, atau prosedur proses transaksi yang sama prosedur, persetujuan jenis ini mungkin tepat dan dapat dilakukan.
Persetujuan jenis ini mempunyai kerugian serius pula, bagaimanapun, dan benar-benar harus dipertimbangkan hanya jika organisasi mempunyai mitra yang sempurna dan tidak punya alternatif lain terhadap disaster recovery. Satu kerugiannya adalah mau tidak mau masing-masing infrastruktur organisasi harus mempunyai ekstra kapasitas yang tak terpakai untuk memungkinkan pengolahan operasional penuh sepanjang peristiwa yang mengganggu terjadi.
Kekurangan yang paling besar dalam rencana jenis ini adalah apa yang akan terjadi ketika bencana tersebut cukup besar dan mempengaruhi kedua organisasi tersebut. Ketika keduanya mengalami bencana, keuntungan yang sedianya bisa diperoleh menjadi tidak lagi dimungkinkan.

b. Subscription Services
Jenis skenario lain yaitu dengan menggunakan jasa langganan (subcription services). Di dalam skenario ini, pihak ketiga, jasa komersial menyediakan proses backup dan fasilitas pemrosesannya. Jasa Langganan mungkin yang paling umum dilakukan. Jenis ini mempunyai kerugian dan keuntungan yang sangat spesifik.
Terdapat tiga bentuk dasar subcription service dengan beberapa variasi:
• Hot Site
Ini adalah lokasi backup alternatif yang paling hebat. Hot site adalah suatu tempat yang mempunyai fasilitas komputer yang dipasok dengan daya listrik, pemanasan, ventilasi, dan proses pengaturan suhu, dan berfungsi sebagai file/print server dan workstation. Aplikasi yang diperlukan untuk mendukung proses transaksi secara remote di-install pada server dan workstation dan dijaga agar selalu up-to-date sesuai dengan kondisi operasional biasa. Lokasi jenis ini memerlukan pemeliharaan perangkat keras, perangkat lunak, data, dan aplikasi yang teratur untuk menjaga kesesuaian dengan kondisi biasanya. Hal ini memerlukan biaya administratif yang lebih dan cukup menghabiskan sumber daya.
Keuntungan dari hot site ini cukup banyak. Keuntungan yang utama adalah bahwa ketersediannya selama 24/7. Hot site dapat digunakan secara cepat dan tersedia (atau di dalam toleransi waktu yang diperbolehkan) sesaat setelah peristiwa yang mengganggu terjadi.
• Warm Site
Warm site merupakan kombinasi antara hot site dan cold site. Seperti halnya hot site, pada warm site terdapat suatu fasilitas komputer yang tersedia dengan daya listrik dan HVAC, tetapi aplikasinya belum di-install atau dikonfigurasi. Untuk memungkinkan pengolahan secara remote pada lokasi jenis ini, workstation harus dikirimkan dengan cepat; dan aplikasi dan data mereka perlu di-restore dari backup media. Keuntungan warm site adalah sebagai berikut: Harga. Lebih murah dibanding hot site. Lokasi. Lokasi bisa dipilih lebih fleksibel. Sumber daya. Sumber daya yang digunakan lebih sedikit daripada sumber daya yang dibutuhkan hot site. Kerugian yang utama dibandingkan dengan hot site, adalah diperlukannya waktu dan usaha yang lebih besar untuk memulai proses recovery di tempat yang baru. Jika proses operasional
transaksi tidak begitu penting dan kritis, warm site dapat menjadi pilihan yang tepat.
• Cold Site
Cold site merupakan pilihan paling tidak siap dari ketiga pilihan yang ada, tetapi mungkin yang paling umum. Cold site berbeda dengan dua yang lain, cold site merupakan suatu ruang dengan daya listrik dan HVAC, tetapi komputer harus dibawa dari luar jika diperlukan, dan link komunikasi bisa ada ataupun tidak. File/print server harus dibawa masuk, seperti halnya semua workstation, dan aplikasi perlu diinstall dan data di-resore dari backup.
Ada beberapa keuntungan cold site, bagaimanapun, yang menjadi alasan utama adalah biaya. Jika suatu organisasi mempunyai anggaran sangat kecil untuk suatu lokasi proses backup alternatif, cold site mungkin lebih baik dibanding tidak ada sama sekali.
b. Multiple Centers
Variasi untuk lokasi alternatif yang sebelumnya telah disebutkan sebelumnya dinamakan multiple centers, atau lokasi rangkap. Dalam suatu konsep multiple-center, proses pengolahan tersebar di beberapa pusat operasi, menciptakan suatu pendekatan reduncancy dan pembagian sumber daya tersedia. Multiple-center ini dimiliki dan diatur oleh organisasi yang sama (lokasi in-house) atau penggunaan bersama dengan beberapa macam persetujuan timbal balik. Keuntungannya terutama hanya semata-mata masalah finansial. Kerugian yang utama adalah relatif lebih sulit untuk dikelola.
c. Service Bureaus
Dalam kasus yang langka, suatu organisasi dapat mengontrak suatu kantor jasa/layanan untuk secara penuh menyediakan semua proses backup. Keuntungan yang besar pada jenis ini adalah ketersediaan dan tanggapan yang cepat kantor jasa/layanan dan uji coba bisa dilakukan.Kerugian dari jenis ini adalah biaya yang dibutuhkan cukup besar.
2. Disaster Recovery Plan Maintenance
Disaster Recovery Plan sering kali kadaluarsa. Perusahaan dapat menyusun kembali DRP-nya, bisnis unit yang kritis mungkin berbeda dibanding ketika rencana yang yang pertama diciptakan. Yang paling umum adalah berubahnya infrastruktur jaringan atau infrastruktur komputasi berubah (perangkat keras, perangkat lunak, dan lain komponennya). Pertimbangan boleh jadi administratif: DRP yang kompleks tidaklah dengan mudah dibaharui, personil kehilangan minat, atau terjadinya pergantian karyawan yang mempengaruhi keterlibatannya.
Apapun alasannya, merencanakan teknik pemeliharaan harus dimulai sejak dari permulaan untuk memastikan bahwa rencana tersebut selalu up-to-date dan dapat dipakai. Adalah penting untuk membangun prosedur pengelolaan ke dalam organisasi dengan memasukkannya ke dalam job description masing-masing staf yang memusatkan tanggung jawab untuk selalu diperbaharui. Juga, menciptakan prosedur audit yang dapat melaporkan secara teratur atas status rencana tersebut. Adalah juga penting memastikan bahwa tidak ada versi yang ganda atas rencana tersebut, sebab hal tersebut bisa menciptakan kebingungan ketika terjadi suatu keadaan darurat.
Lima Jenis Tes Disaster Recovery Plan :
Ada 5 tipe tes rencana pemulihan bencana. Susunan di bawah ini adalah berdasarkan prioritas,dari yang paling sederhana hingga jenis/tipe tes yang paling lengkap.Setiap tes terlibat secara lebih progresif dan lebih akurat melukiskan tanggung jawab actual perusahaan. Beberapa tipe-tipe tes, contohnya dua yang terakhir memerlukan investasi besarbaik waktu, sumber daya dan koordinasi saat implementasi.
Berikut ini adalah jenis/tipe tes :
Checklist Test. Duplikasi dari rencana tersebut didistribusikan ke masing-masing business units management. Rencana tersebut kemudian di-review untuk menjamin rencana tersebut terhubungkan kesemua prosedur-prosedur dan area-area organisasi yang critical. Kenyataannya, ini dianggap sesuatu langkah pendahuluan tes yang nyata dan bukan tes yang memuaskan.
Simulation Test. Selama tes simulasi, seluruh personil operasional dan support diharapkan menjalankan actual emergency meet pada sesi latihan. Tujuannya di sini adalah untuk menguji kemampuan personil dalam merespons simulasi bencana. Simulasi tersebut mengarah pada point relokasi untuk alternatif backup site atau menentukan prosedur pemulihan, tetapi tidakdilaksanakan proses pemulihan aktual atau proses alternatif.
Paralel Test. Paralel adalah tes penuh dari rencana recovery, dengan menggunakan seluruh personil. Perbedaan antara paralel test dengan full interruption test selanjutnya adalah proses produksi utama pada bisnis tidak berhenti. Tujuan dari tes jenis ini adalah untuk memastikan bahwa critical system akan berjalan aktual pada alternatif proses backup site. Sistem-sistem tersebut direlokasikan ke site alternatif , proses paralel mulai dijalankan dan hasil transaksitransaksi dan elemen-elemen lainnya yang dibandingkan. Tipe ini yang paling umum dari tes disaster recovery plan.
Full Interruption Test. Selama full interruption test, sesuatu bencana direplikasikan langsung ke sesuatu saat pelaksanaan produksi normal yang terhenti. Rencana tersebut secara keseluruhan di implementasikan seperti sebuah bencana yang nyata, langsung melibatkan emergency sevices (meskipun untuk tes yang lebih besar, local authorities mungkin di informasikan dan membantu cordinate). Tes tersebut merupakan bentuk tes yang sangat menakutkan, dari mana ini dapat menyebabkan sesuatu bencana pada tes tersebut. Ini juga merupakan jalan yang terbaik yang paling pasti untuk menguji disaster recovery plan.

Tahapan Disaster Recovery Plan adalah sebagai berikut :
1. REDUNDANT atau Dual Input POWER SOURCE
Siapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga kita terapkan pada DUAL Input power ke UPS kita. Jika tidak ada Genset, kita juga bisa memanfaatkan Input sumber daya yang lain seperti tenaga Surya, dll.
a. Input Power dari PLN.
b. Input Power dari GENSET.
c. Input Power dari Power Source lain.
2. DUAL UPS atau Redundant UPS to PSU
a. UPS A
b. UPS B
Kita gunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit. Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit ( PSU ). Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain.
3. DUAL POWER SUPPLY UNIT ( per server )
a. PSU A dengan power input dari UPS A
b. PSU B dengan power input dari UPS B
Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin.

4. LOCAL STORAGE RAID System untuk OS
RAID System ( Redundant Array of Inexpensive Disks ) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk.

Tujuannya adalah jika salah satu atau beberapa harddisk dari suatu kelompok harddisk mengalami kerusakan, maka sekelompok harddisk tersebut secara fungsi tidak mengalami problem sehingga kita tidak sampai mengalami kehilangan data. Pada RAID System ini dianjurkan mengunakan harddisk HotPlug atau harddisk HotSwap, sehingga dengan harddisk ini kita tidak perlu mematikan server untuk proses pengantian harddisk yang rusak tersebut.System RAID yang dapat kita gunakan adalah :
a. RAID 1+0 / Mirror ( minimal ), lebih bagus lagi pake RAID5 atau RAID6 .
b. RAID5 => ( N=N-1 ), 1 buah harddisk yang dialokasikan untuk Fault Tolerance.
c. RAID6 / RAID ADG ( Advanced Data Guard ) => ( N=N-2 ), 2 buah harddisk yang dialokasikan untuk Fault Tolerance.
5. DUAL / REDUNDANT Connection LAN per server
Mengunakan 2 LAN Card atau lebih tentu akan menjamin Availability server dalam jaringan jika terjadi kerusakan pada LAN Card Server. Sehingga jika salah satu koneksi LAN putus maka koneksi LAN yang lain dapat mengambil alih koneksi atau otomatis Take Over. Redundant Connection ini dapat berupa :
a. NIC / LAN Card untuk Redundant Connection & Load Balancing
b. FO untuk Redundant Connection (Server ke SAN / NAS & FO antar Switch)

6. REDUNDANT Connection EXTERNAL STORAGE
Protection untuk OS, Database & Fileserver External Storage berupa SAN ( Storage Area Network ) ataupun NAS ( Network Attach Storage ) saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan pokok dalam Server System. Redundant Connection dari Server ke External Storage ini sangat penting karena sangat membantu dalam menigkatkan proteksi storage sesuai sehingga fungsional Data Storage dapat befungsi sebagaimana mestinya. Koneksi dari Server ke External Storage berupa Fiber Optic ( FO ) atau Ethernet Connection ( iSCSI ) dan proteksi ke storage kita berupa :
a. System RAID (RAID 1+0, RAID5 atau RAID6)
b. ASM & OMF ( khusus untuk Database Oracle )

7. TAPE BACKUP, Tape Library atau Vitual Tape Library ( VTL )
Tape Backup adalah Proteksi Data lebih lanjut baik ke External Catriedge maupun Virtual Tape Library yang selanjutnya Tape Catriedge di simpan ke suatu tempat khusus agar jika terjadi disaster ( musibah ) dapat digunakan untuk recovery data dengan cepat.
a. Tape Backup Convensional dengan Catriedge yang memadai
b. FO untuk Redundant Connection (dari Server ke Library atau VTL / Virtual Tape library)
8. SERVER REPLICATION TECHNOLOGY
Technology yang di implementasikan pada Server kita sangat berperan penting, misalnya pada Single Server jika terjadi problem ringan seperti RESTART Server, Update Patch, dll butuh waktu untuk Downtime 5 menit hingga 15 menit untuk proses Running Up Server. Apalagi problem fatal maka butuh waktu sekitar 1 jam lebih untuk Re-Building Server yang sama seperti semula. Maka dengan Technology Server Replication maka Downtime Server tersebut bisa di minimalkan bahkan bisa di tekan hingga hingga ZERO Downtime.
Ada 2 macam teknik dalam Server Replication, yaitu :
a. MIRRORED SERVER
b. CLUSTERED SERVER
Pada Mirrored server dibutuhkan Intervensi IT Administrator untuk melakukan Switching atau TakeOver Server termasuk menjalankan Script agar Server Pasif dapat mengambil alih Server Aktif yang sedang Down. Sedangkan pada Clustered Server tidak lagi dibutuhkan intervensi IT Administrator karena Clustered Server bisa melakukan TakeOver secara otomatis. Pada server penulis, proses TakeOver Clustered Server dari NODE1 ke NODE2 di Windows Server 2003 hanya berjalan dalam hitungan sekitar 5 detik.

Clustered System adalah Teknik mengabungkan kemampuan atau kekuatan beberapa buah Server menjadi sebuah Server System yang Powerfull. Secara phisical, Clustered Server ini terdiri atas 2 buah Server atau lebih bahkan hingga ratusan Server. Namun secara System dikenali sebagai 1 buah Server System. Jadi Clustered Server merupakan manifestasi atau miniatur daripada Server Mainframe yang harganya sangat mahal, sehingga dengan menjadi Clustered Server biaya pembelian Server Mainframe dapat di gantikan dengan membangun Clustered Server.
9. SERVER CO-LOCATION
Server Colocation adalah Server production kita gunakan operasional sehari-hari yang di Replikasi-kan pada Server kita yang berada diluar Site Server kita. Misalnya di luar kota, di luar pulau bahkan di luar negeri. Implementasi ini sangat bergantung pada kecepatan bandwith koneksi yang kita miliki atau kita sewa dari ISP.
Ada 3 macam teknik dalam Server Co-Location, yaitu :
a. MIRRORED SERVER Co-Location
b. CLUSTERED SERVER Co-Location
c. BACKUP Storage to Co-Location Storage ( umumnya mengunakan NAS dengan iSCSI )

2. Pengendalian toleransi kegagalan system
Penerapan teknologi informasi untuk mendukung operasional sebuah organisasi atau organisasi, memberi dampak yang sangat besar terhadap kinerja organisasi. Semakin besar ketergantungan suatu organisasi, semakin besar pula kerugian yang akan dihadapi organisasi tersebut, bila terjadi kegagalan system informasinya. Bentuk kegagalan fungsi sistem informasi ini dapat beraneka ragam, mulai dari kegagalan sistem kelistrikan, serangan hacker, virus,pencurian data, bencana alam, sampai dengan adanya serangan teroris.
Toleransi kegagalan system dapat diwujudkan melalui implementasi beberapa komponen system yang redundan :
- Pedundant array of inexpensive (independent) disk (RAID). Terdapat beberapa jenis konfigugasi RAID. Pada dasarnya, setiap metode melibatkan penggunaan beberapa disket pararel yang berisai berbagai elemen data dan aplikasi yang redundan.
- Uninterruptable power supplies (UPS). Jika terjadi pemadaman listrik, maka sumber listrik cadangan dengan tenaga baterai yang tersedia akan memungkinkan system untuk mematikan dirinya secara terkendali.
- Multipemerosesan. Penggunaan yang simultan dua atau lebih prosesor meningkatkan jumlah pemerosesan yang dapat dijalankan dalam operasi normal.

3. Pengendalian keseluruhan sistem
Jika integritas sistem informasi menjadi lemah, maka pengendalian dalam tiap aplikasi akuntansi mungkin akan menjadi lemah pula atau dinetralkan. Karena sistem informasi adalah hal yang digunakan semua pengguna, semakin besar suatu fasilitas komputer maka akan makin tinggi skala potensi kerusakannya. Jadi, dengan semakin banyaknya sumber daya komputer yang digunakan bersama dalam adanya suatu komunitas pengguna yang selalu bertambah, keamanan sistem operasi menjadi isu pengendalian yang penting.
Pengendalian ini untuk memberikan keyakinan bahwa :
(1) pengujian,penggantian, implementasi dan dokumentasi dari sistem yang baru atau yang diperbaiki ,
(2) perubahan terhadap sistem dokumentasi ,
(3) akses terhadap sistem aplikasi dan
(4) pembelian sistem aplikasi dari pihak ketiga.

4. Kebijakan password / kata sandi
Password adalah kode rahasia yang dimasukkan oleh pengguna agar bias diakses sistem, aplikasi, file data, atau network server. Jika pengguna tidak dapat memasukkan password yang benar, maka sistem operasi akan menolak akses dari pengguna lainnya.
Di terapkannya kebijakan password adalah untuk mengurangi:
- Resiko kerugian fisik
- Resiko kehilangan data
- Resiko pengguna akhir
- Resiko prosedur pembuatan cadangan yang tidak memadai
- Resiko sulitnya melaksanakan audit pada system.

5. Pengendalian Jejak Audit Elektronik
Audit trail adalah logs yang dapat didisain untuk mencatat aktivitas di dalam sistem, aplikasi yang digunakan, dan pengguna dari sistem.Tujuan audit: memastikan bahwa pemeriksaan terhadap users dan events cukup memadai untuk mencegah dan mendeteksi penyalahgunaan sistem, merekonstruksi kejadian-kejadian yang menyebabkan kegagalan sistem, serta merencanakan alokasi sumber daya.
Jejak audit dapat digunakan untuk mendukung tujuan keamanan melalui tiga cara :
- Mendeteksi adanya akses tidak sah ke system. Mendeteksi akses tidak sah dapat terjadi secara real-time atau setelah kejadian. Tujuan utama dari deteksi untuk menembus adanya pengendalian system.
- Rekonstuksi peristiwa. Analisis audit dapat digunakan untuk merekonstruksi berbagai tahapan yang dapat mengarah pada berbagai peristiwa seperti adanya kegagalan system yang dapat merusak kerja system. Tindak Pelanggaran kemananini biasa dilakukan oleh seseorang.
- Meningkatkan akuntabilitas personal. Jejak audit dapat digunakan untuk memonitor aktivitas pengguna dari tingkat perincian level yang terendah hingga ke level perincian yang tertinggi. Kemampuan ini adalah pengendalian preventif yang dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku pengguna atau user.

6. Pengembangan Sistem dan Prosedur Pemeliharaan yang tidak memadai
Banyak perusahaan membutuhkan suatu system informasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi bisnis khususnya. Perusahaan-perusahaan ini mendesain sendiri sistem informasi melalui aktivitas pengembangan system yang dilakukan secara internal. Pengembangan secara internal membutuhkan keberadaan staff sistem tetap yang bertugas sebagai analisis serta programmer yang akan mengidentifikasi kebutuhan informasi para pengguna dan memuaskan kebutuhan mereka melalui sistem yang ada dan telah disesuaikan.
Pemeliharaan sistem adalah proses optimalisasi yang bertujuan mengidentifikasi system yang terbaik. Keputusan ini mewakili tahap yang sangat penting dalam SDLC.
Proses evaluasi dan pemeliharaan melibatkan 2 tahapan :
- Melakukan studi kelayakan yang terperinci
- Melakukan analisis biaya – manfaat.
Tujuan pengendalian pengembangan system adalah sebagai berikut:
1. Untuk menjamin bahwa seluruh kegiatan pengembangan sistem telah diotorisasikan, diuji, ditelaah, didokumentasikan, disetujui, dan diterapkan.
2. Untuk menjamin bahwa standar, kebijakan dan prosedur-prosedur yang ada benar-benar dilaksanakan dalam membantu manajemen mengendalikan sistem dan kegiatan pemrograman.
3. Untuk menjamin bahwa sistem tersebut dapat diperiksa (auditable).
4. Untuk melindungi data, program, dan komputer dari akses secara tidak sah, manipulasi penghancuran dan pencurian.
5. Untuk menjamin kecukupan supervisi dan prosedur operasi untuk mengimbangi kurangnya pemisahan berbagai pekerjaan antara pengguna, programer, dan operator.
6. Untuk Menerapkan bahwa adanya prosedur pembuatan cadangan untuk mencegah kehilangan data serta program karena kegagalan sistem, kesalahan, dan sebagainya.
7. Untuk menjamin bahwa sistem bebas dari virus dan cukup terlindungi untuk meminimalkan resiko terinfeksi virus atau objek yang hampir sama lainnya.

Prosedur Audit adalah sebagai Berikut:
1. Memeriksa kebijakan perusahaan terhadap pemisahaan fungsi yang tidak kompatibel dan memastikan perusahaan membuat keamanan yang beralasan.
2. Memeriksa hak-hak istimewa dari grup pengguna maupun individu untuk menentukan apakah hak istimewa mereka telah sesuai dengan posisi dan deskripsi pekerjaannya. Auditor sebaiknya memeriksa apakah individu tersebut diberikan akses terhadap data dan program berdasarkan kebutuhan saja.
3. Memeriksa catatan atau latar belakang pegawai untuk menentukan apakah hak istimewa dari pegawai digunakan dengan kecukupan pemeriksaan keamanan secara intensif sebagai kepatuhan terhadap kebijakan perusahaan.
4. Memeriksa catatan pegawai untuk menentukan apakah pengguna secara formal telah mengetahui tanggung jawabnya untuk memelihara kerahasiaan dari data perusahaan.
5. Memeriksa frekuensi izin penggunaan dari pengguna. Izin penggunaan harus sesuai dengan tugas yang akan dikerjakan
6. Auditor harus mengkonfirmasikan bahwa laporan transaksi yang di proses, daftar akun yang diperbarui, dan total pengendalian dibuat, disebarluaskan, dan direkonsiliasi oleh pihak manajemen yang terkait secara reguler dan tepat waktu
7. Jika dibutuhkan, auditor harus menentukan apakan pengendalian kata sandi multitingkat digunakan untuk membatasi akses ke data dan aplikasi.

Sumber : MODUL Teori EDP dan EDP Audit DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI POST CLEARANCE AUDIT (PCA)

Selasa, 17 Maret 2009

Jazz


Jason Mraz: We Sing. We Dance. We Steal Things.

Setelah album Waiting for My Rocket to Come yang dirilis tahun 2002, pada album terbarunya yang berjudul We Sing. We Dance. We Steal Things. ini Jason tampak lebih matang dan lebih serba bisa. Maksudnya serba bisa, di album ketiga ini ia banyak bereksperimen dengan berbagai genre dan aliran musik yang beragam. Tidak hanya menunjukkan musik akustik yang identik dengan dirinya.

Memang sih single pertama yang dirilis di radio tanah air, I’m Yours bergenre ballad dengan petikan gitar khas Jason, namun di track-track lain dalam album ini ia berubah menjadi lebih hip dan mengganti irama gitar akustiknya dengan piano elektrik yang jazzy dan sound-sound lain yang sangat nge-groove. Perubahan itu bisa disimak dalam lagu Make It Mine dan Butterfly yang akan mengajak anda bergoyang. Bahkan dalam lagu Coyote ia lebih berani lagi memasukkan sound-sound elektronik.

Tapi para penggemar yang lebih senang mendengar suara halus Jason mengalun dengan iringan gitar akustik tak perlu khawatir. Masih ada Details in the Fabric, Love For A Child, dan sebagainya. Duet manisnya dengan Colbie Colliat, Lucky, juga mengandalkan kemahiran Jason bermain gitar. Hasilnya adalah sebuah lagu bernuansa folk yang sangat easy listening.

Mau yang enerjik? Folk? Balada? Atau melankolis? Semua ada dalam album ini. Dan semua berhasil disampaikan Jason Mraz dengan sangat apik (dan beresiko). Sampai-sampai sukar sekali menentukan manakah karakter Jason Mraz yang asli.

Rock


KOIL


1993, Otong, Doni, Imo, dan Leon sepakat mendirikan KOIL serta hanya mau memainkan lagu-lagu karya sendiri. Sungguh manuver duhai ajaib bagi musik rock Indonesia di jaman itu.

1994, walau terhimpit situasi cekak dana, Demons From Nowhere berhasil juga diterbitkan. Terima kasih kepada Reverse Outfits—milik Richard Mutter, mantan drummer Pas Band—sebagai satu-satunya toko yang sudi menjual mini album berisikan 8 lagu tersebut.

1996, Budi Soesatio menghampiri KOIL, menawari kerjasama untuk merilis 2 album. Pada bulan September, di bawah label milik Budi, Project Q, album penuh perdana, KOIL dirilis. Album berlirik Indonesia yang pekat direcoki sampling ini sebagian materinya adalah daur ulang dari mini album sebelumnya. Nuansa pasif-agresif, ofensif-defensif, kisah suram kehidupan urban, tipikal band mazhab Industrial; dramatis menyentak skena cadas Nusantara.

1998, hantaman krisis moneter menggagalkan niat label yang pernah merilis album Slank 1-3 itu untuk melanjutkan merilis album KOIL ke berikutnya. Otong dan Adam (Kubik) mengambil langkah penyelamatan, mendeklarasikan Apocalypse Records dan melansir single dalam format kaset, Kesepian Ini Abadi. Tak cuma itu, konsep busana khas S&M (kulit mengkilat, aksesoris logam, boots tinggi) makin ditegaskan. Pula di setiap pertunjukan dihadirkan wanita-wanita sexy penganut S&M. James Brown silakan menyebut dirinya sebagai “the hardest-working man in show business”, tapi KOIL–di wilayah musik independen Indonesia di era itu–adalah sejati “the smartest-working band in show business”.

2001, Megaloblast diluncurkan. Jeda yang begitu lama antara album pertama dengan ke-2 rupanya berujung produktif, angka penjualan 15 ribu kopi gemilang dicapai. Ini ultra luar biasa sebab hanya menggunakan jalur distribusi tangan ke tangan alias indie.
Videoklip Mendekati Surga menyusul melengkapi. Segendang sepenarian, sambutan yang diperoleh juga amat hangat. Yang menarik, frekuensi pemutaran Mendekati Surga di MTV bahkan sukses menghempaskan Linkin Park sekalipun.

2003, Alfa Records berinisiatif merilis ulang Megaloblast dengan menambahkan 2 lagu remix serta merubah artwork sampul album dari putih menjadi hitam–hingga sering disebut sebagai Megaloblack.

2007, jazirah cadas dan kaum kerabat besi-baja digemparkan oleh The Blacklight Shines On. Penantian selama 6 tahun yang tidak percuma. Selain mengangkat kontributor tetap, Adam Kubik, ke jajaran inti; ditopang materi musikal yang dahsyat, lirik cerdas-lugas-sinis, pula menjungkirbalikkan tatanan baku musik lokal: album ini diedarkan secara gratis, cuma-cuma, bebas bea!!!

Pop

Biografi Krispatih....

Berawal dari persahabatan empat orang mahasiswa Institut Musisi Indonesia, Arief, Badai, Andika, dan Anton, terpanggil untuk membentuk sebuah Band bertemakan Instrumental Etnik, yang mereka gubah dalam Aransemen Baru.

Sore, 21 April 2003, tercetuslah nama dari grup tersebut, KERISPATIH, yang artinya diambil dari makna sebuah Keris : senjata sakti seorang empu, petinggi kerajaan terdahulu; dan Patih : yang melambangkan jabatan penting dalam suatu kerajaan dan biasanya dijabat oleh seorang laki-laki. Empat laki-laki inilah yang akan menggunakan “keris” (teranalogi kerispatih adalah musik) sebagai senjata ampuh dalam melahirkan karya-karya terbaik yang bersifat universal atau dapat diterima oleh semua orang.

22 April 2003 menjadi saksi pertama KERISPATIH tampil di acara Farabi Sunday. Terbersitlah keinginan untuk memiki seorang vocalist. Hendra Samuel Simorangkir, rekan mereka di kampus yang sama dan salah satu finalis 30 besar Indonesian Idol I, akhirnya bergabung dengan KERISPATIH.

Dengan formasi ini, KERISPATIH menjalani hari-hari tanpa kejelasan apa-apa. Seakan-akan band ini mengalami “stuck” untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Akhirnya, KERISPATIH mengambil inisiatif untuk mengusulkan management untuk Kerispatih. Ingga Jaya Purda, seorang sahabat di kampus yang sama, akhirnya bersedia membantu mengatur management band ini (kini management itu adalah Bagot’z Productions)

Harapan KERISPATIH adalah menjadi sebuah Band yang mempunyai karier panjang dan dapat menjadi Icon besar di belantika musik Indonesia. Harapan terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah KERISPATIH dapat mewakili perasaan dan isi hati para “Maha Patih” (panggilan akrab untuk fans KERISPATIH)

Nama Lengkap : Hendra Samuel Simorangkir
Panggilan : Sammy
Tempat / Tanggal Lahir : Bandung / 8 September 1982
Nama Orang Tua : Ayah - D. N. Simorangkir | Ibu - Tiur Ida Simanjuntak
Anak ke- : 3 (tiga) dari 3 (tiga) bersaudara
Nama Kakak / Adik : Bassaru Firda Maudani Simorangkir, Sari Simorangkir
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Musisi / Penyanyi
Hobi : Musik
Tinggi Badan : 176 cm
Berat Badan : 74 kg
Uk. Baju : M (L)
Uk. Celana : 34
Uk. Sepatu : 43
Pendidikan :
1. 1987 - 1988 : Eben Hezer Kindergarten, Manado
2. 1988 - 1994 : Cemerlang Elementary, Jakarta
3. 1994 - 1997 : St. Agustinus Junior High School, Jakarta
4. 1997 - 2000 : SMU 21 Senior High School, Jakarta
5. 2002 - 2005 : Indonesia Music Institute, Jakarta
Professional Program 2th, Faculty of Percussion

Non Formal : Latin Study dengan Amos Cahyadi DMC Jakarta
Pengalaman :
1. IMF Drum Competition
2. IMF Drum Competition
3. Indonesia Idol I

Motto Hidup : -
Sammy Uses : Mic Shure ULX Beta 87

Makanan Favorit : Sate
Makanan yang Paling Tidak Disukai : Sayuran
Minuman Favorit : Air Putih
Minuman yang Paling Tidak Disukai : Soda
Kebiasaan Buruk : Susah dibangunin kalo lagi tidur
Sifat Buruk : Doyan Tidur
Hal yang Paling Tidak Disukai : Dibohongin
Lagu Kerispatih yang Paling Disukai : Semua
Lagu Kerispatih yang Paling Tidak Disukai : -
Lagu Kerispatih yang Paling Rumit : -
Lagu Kerispatih yang Paling Gampang : Cinta Putih
Kota Favorit untuk Konser : Semua Kota
Kota Paling Heboh Saat Konser : Semua Kota
Tempat Nongkrong Favorit : Kemang Food Fest
Paling Ingin Ketemu dengan Siapa : Brian McKnight
Binatang yang Paling Disukai : Anjing
Binatang yang Tak Disukai : Kucing
Buah yang Disukai : Melon
Buah yang Tidak Disukai : Mengkudu
Band Legenda Favorit : Van Halen
Band Sekarang Favorit : Toto, U2, Incognito
Keyboardist Favorit : David Foster
Gitaris Favorit : Arief Kerispatih
Bassis Favorit : Jalo Pastorius
Drummer Favorit : Thomas Lang
Vokalis Cewek Favorit : Whitney Huston
Vokalis Cowok Favorit : Brian McKnight
Film Favorit : Pearl Harbor
Serial TV Favorit : Heroes
Aktor / Aktris Favorit : Bruce Willis
Model Favorit : Andrea Dian, Dian Sastro
Tempat Santai Favorit : Pantai
Mobil Gacoan : Mobil Gue



Nama Lengkap : Doadibadai Hollo
Panggilan : Badai
Tempat / Tanggal Lahir : Jakarta, 14 Januari 1978
Nama Orang Tua : Ayah - Alm.H.P.Hollo | Ibu - Barnest Helena
Anak ke- : 4 (empat) dari 4 (empat) bersaudara
Nama Kakak / Adik : Leo, Grace, Yohanna
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Musisi, Song Writer, Arrangger
Hobi : Musik, Travelling
Tinggi Badan : 165 cm
Berat Badan : 68 kg
Uk. Baju : M (L)
Uk. Celana : 35
Uk. Sepatu : 42
Pendidikan :
1. 1983 – 1984 : Tarakanita II Kindergarten, Jakarta
2. 1984 – 1990 : Tarakanita II Elementary, Jakarta
3. 1990 – 1993 : Tarakanita I Junior High School , Jakarta
4. 1993 – 1996 : PSKD I Senior High School, Jakarta
5. 1996 – 2000 : S-1 Mechanical Engineering Trisakti University, Jakarta
6. 2000 – 2004 : Indonesia Music Institute, Jakarta Timur
Professional Program 2th, Faculty of Keyboards

Non Formal :
1. 1984 – 1985 : Yamaha Electone
2. 1986 – 1990 : Indra Lesmana Jazz Workshop, Jakarta
3. 2002 – 2003 : Jazz Course with Khrisna Siregar, Chic’s Music Jakarta

Pengalaman : -
Motto Hidup : Night is Better!
Badai Uses :
- Yamaha Motif XS 8 (Endorse)
- Roland RD 700
- Amplifier Roland KB 300

Makanan Favorit : Telor Ceplok, Indomie, Nasi Goreng, Sop Buntut
Makanan yang Paling Tidak Disukai : Toge
Minuman Favorit : Air Putih
Minuman yang Paling Tidak Disukai : Air Jahe
Kebiasaan Buruk : Phobia Pesawat
Sifat Buruk : Bad Temprament
Hal yang Paling Tidak Disukai : Terlambat
Lagu Kerispatih yang Paling Disukai : Semua
Lagu Kerispatih yang Paling Tidak Disukai : -
Lagu Kerispatih yang Paling Rumit : Janji Kita, Bunda
Lagu Kerispatih yang Paling Gampang : Lagu Rindu
Kota Favorit untuk Konser : Bali
Kota Paling Heboh Saat Konser : Jayapura
Tempat Nongkrong Favorit : Kemang Food Fest
Paling Ingin Ketemu dengan Siapa : DAvid Foster
Binatang yang Paling Disukai : Anjing
Binatang yang Tak Disukai : Tikus
Buah yang Disukai : Melon, Semangka, Jeruk
Buah yang Tidak Disukai : -
Band Legenda Favorit : The Beatles, Chicago, Toto
Band Sekarang Favorit : Dave Matthews Band, Doughtry
Keyboardist Favorit : David Foster, David Benoit
Gitaris Favorit : John Meyer
Bassis Favorit : Nazman East
Drummer Favorit : Vinnie Colatuta
Vokalis Cewek Favorit : Andrea “The Corrs”
Vokalis Cowok Favorit : Robbie Williams
Film Favorit : If Only
Serial TV Favorit : Office Boy (OB)
Aktor / Aktris Favorit : Mel Gibson, Debra Messing, Warkop DKI
Model Favorit : Mariana Renata, Indah Kalalo
Tempat Santai Favorit : Rumah
Mobil Gacoan : Jeep CJ 7


Nama Lengkap : Arief Nurdiansyah Morada
Panggilan : Arief
Tempat / Tanggal Lahir : Jakarta, 8 April 1982
Nama Orang Tua : Ayah - Bambang Arie | Ibu - Desmiyati
Anak ke- : 1 (satu) dari 4 (empat) bersaudara
Nama Kakak / Adik : Ria, Reza, Lukman
Agama : Islam
Pekerjaan : Musisi
Hobi : Musik, Komputer
Tinggi Badan : 168 cm
Berat Badan : 68 kg
Uk. Baju : S
Uk. Celana : 32
Uk. Sepatu : 41
Pendidikan :
1. 1987 – 1988 : Kasimo Mangga Besar Kindergarten, Jakarta
2. 1988 – 1994 : Budi Mulia Elementary, Jakarta
3. 1994 – 1997 : Budi Mulia Junior High School, Jakarta
4. 1997 – 1999 : SMUK Ketapang II Senior High School, Jakarta
5. 2001 – 2005 : Indonesia Music Institute, Jakarta Timur
Professional Program 2th, Faculty of Guitar

Non Formal :
1. 1987 – 1992 : YPMJ Piano (5 years)
2. 2000 – 2001 : Side Job Piano on Glenn Dauna
3. 2000 – 2001 : Guitar Classic Course at YPMI Mangga Besar until level 4
Pengalaman :
-
Motto Hidup : Don’t Look Back, Look Forward
Anton Uses :
- Guitar Cort Hiram Bulog (Endorse), Cort G290 (Endorse), Godin Solidac, Fender Stratocaster
- Amplifier Head + Cabinet Mesa Boogie Stilleto
- Efek Analog Stompboxes

Makanan Favorit : Pasta, Sushi
Makanan yang Paling Tidak Disukai : Yang bau amis
Minuman Favorit : Air Putih
Minuman yang Paling Tidak Disukai : Jamu
Kebiasaan Buruk : Mau muntah kalo mau manggung
Sifat Buruk : Sensitif
Hal yang Paling Tidak Disukai : Jika segala sesuatu jadi ribet
Lagu Kerispatih yang Paling Disukai : Sepanjang Usia
Lagu Kerispatih yang Paling Tidak Disukai : -
Lagu Kerispatih yang Paling Rumit : Pertama dan Terakhir
Lagu Kerispatih yang Paling Gampang : Masih Ingin Bersamamu
Kota Favorit untuk Konser : -
Kota Paling Heboh Saat Konser : -
Tempat Nongkrong Favorit : Rumah
Paling Ingin Ketemu dengan Siapa : -
Binatang yang Paling Disukai : Anjing
Binatang yang Tak Disukai : Tikus
Buah yang Disukai : Jeruk
Buah yang Tidak Disukai : Manggis
Band Legenda Favorit : Toto
Band Sekarang Favorit : Slipknot, Van Halen, Linkinpark, Limpbizkit
Keyboardist Favorit : Chic Korea
Gitaris Favorit : Steve Lukather
Bassis Favorit : Billy Soehan
Drummer Favorit : Simon Philips
Vokalis Cewek Favorit : Celine Dion
Vokalis Cowok Favorit : John Meyer
Film Favorit : Transformers
Serial TV Favorit : Friends
Aktor / Aktris Favorit : Bradd Pitt
Model Favorit : Claudia Schiffer
Tempat Santai Favorit : Bali
Mobil Gacoan : Nissan


Nama Lengkap :Andika Putrasahadewa
Panggilan : Dika
Tempat / Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 8 Januari 1982
Nama Orang Tua : Ayah - Alm.Ir.Isdarmadi Ismail Msc | Ibu - Isdiati
Anak ke- : 2 (dua) dari 3 (tiga) bersaudara
Nama Kakak / Adik : Arya Ikadharmawan, Adhisti Duhitawirati
Agama : Islam
Pekerjaan : Musisi
Hobi : Air Soft Gun, Otomotif
Tinggi Badan : 180 cm
Berat Badan : 70 kg
Uk. Baju : M
Uk. Celana : 32
Uk. Sepatu : 45
Pendidikan :
1. 1987 – 1993 : BPS&K Elementary, Cipinang
2. 1993 – 1996 : SMPN 52 Junior High School, Jakarta Timur
3. 1996 – 1999 : SMUN 36 Senior High School, Jakarta Timur
4. 1999 – 2000 : Trisakti University, Geological Science
5. 2000 – 2002 : Moestopo University, FIKOM
6. 2002 – 2005 : Indonesia Music Institute, Jakarta Timur
Professional Program 2th, Faculty of Bass

Non Formal : -
Pengalaman : -
Motto Hidup : Do My Best
Anton Uses :
- Bass Cort RB 5 (Endorse), Cort Masterpiece (Endorse), Fender JazzBass Marcusmiller 5 (Collection)
- Amplifier Ampeq SVT 4 Pro Head Unit + 4 X 10 SWR Goliat 3 Cabinet
- Efek Dunlop Cry Baby Wah Pedal, BOSS Eq, BOSS Compression Sustainer, BOSS Tuner, D’addario Strings

Makanan Favorit : Bakso
Makanan yang Paling Tidak Disukai : Sayuran
Minuman Favorit : Air Putih
Minuman yang Paling Tidak Disukai : -
Kebiasaan Buruk : Suka Gigit Jari
Sifat Buruk : Emotional, Egois
Hal yang Paling Tidak Disukai : Menunggu
Lagu Kerispatih yang Paling Disukai : Sepanjang Usia
Lagu Kerispatih yang Paling Tidak Disukai : Lupakan Aku
Lagu Kerispatih yang Paling Rumit : -
Lagu Kerispatih yang Paling Gampang : -
Kota Favorit untuk Konser : Jakarta
Kota Paling Heboh Saat Konser : -
Tempat Nongkrong Favorit : Lounge
Paling Ingin Ketemu dengan Siapa : -
Binatang yang Paling Disukai : Anjing
Binatang yang Tak Disukai : -
Buah yang Disukai : Apel
Buah yang Tidak Disukai : -
Band Legenda Favorit : The Beatles, Kool and The Gang
Band Sekarang Favorit : Jamiroquai, Panic at The Disco, Casiopea
Keyboardist Favorit : Minoru Mukarya
Gitaris Favorit : Issei Noro
Bassis Favorit : Tetsuo Sakurai
Drummer Favorit : Akira Jimbo
Vokalis Cewek Favorit : -
Vokalis Cowok Favorit : -
Film Favorit : Saving Private Ryan, Enemy at The Gates
Serial TV Favorit : C.S.I
Aktor / Aktris Favorit : Bruce Willis
Model Favorit : Maria Agnes
Tempat Santai Favorit : -
Mobil Gacoan : Nissan Skyline R34, Ferrari Enzo